IBRAHIMSCRIPT

Raksa Ibrahim-write to protect the unwritten

Sejuta kawan tanpa keuntungan?

leave a comment »


Catatan dari Melbourne:

Di saat libur tengah semester musim dingin, September 2012.

Perdana Menteri Malcolm Fraser

Mantan Perdana Menteri kawakan Australia, Malcolm Fraser berbicara mengenai hubungan Australia-Amerika Serikat (A.S) di era kebangkitan Asia. Dalam pemaparannya Fraser beranggapan bahwa kebijakan luar negeri Australia terlalu condong kepada A.S. Kecondongan ini, menurut Fraser menghambat kelincahan Australia dalam memainkan perannya di Asia. Australia kehilangan daya cengkram dan kredibilitasnya bila dihadapkan dengan isu-isu yang berkaitan dengan stabilitas dan keamanan kawasan Asia Pasifik.

Secara khusus, Fraser menganggap bahwasanya Australia perlu untuk melakukan reposisi dalam aliansinya dengan A.S. Kehadiran pasukan marinir A.S di fasilitas militer Australia di Darwin dalam rangka kerja sama pertahanan memberikan gestur yang secara tidak langsung mengarah kepada China. Fraser juga menambakan, kehadiran pasukan marinir AS di Darwin semakin memberikan rasa tidak aman terhada Australia. Dukungan Australia terhadap A.S juga tidak mendorong adanya upaya membangun rasa saling percaya antara negara-negara di Asia.

Malcolm Fraser

Malcolm Fraser berbicara di Asia Institute University of Melbourne

Kebijakan luar negeri dan pertahanan Australia secara umum terbentuk melalui ‘konsultasi’ dengan A.S, sementara mayoritas negara-negara di Asia tidak akan pernah merasa perlu untuk melakukan konsultasi dengan Australia dalam mengkomunikasikan kebijakannya. Negara-negara di Asia akan langsung melakukan komunikasi dengan A.S  dalam membahas isu-isu keamanan kawasan. Di saat yang bersamaan usaha Australia untuk lebih mendekatkan diri dengan Asia terasa hambar dengan ketidak-pekaannya dalam mendorong stabilitas di kawasan.

Fraser menggaris bawahi mengenai pentingnya keikutsertaan publik untuk menghindari kembalinya mentalitas Perang Dingin. Mentalitas yang mengacaukan kebebasan Australia dalam menentukan prioritas kepentingan nasionalnya. Mentalitas yang mendorong Australia kehilangan momentum untuk mengambil keuntungan dari kebangkitan Asia. Aliansi Australia dengan A.S  bukan didasari pada komitmen untuk selalu mengekor kepentingan A.S melainkan lebih pada keinginan Australia untuk menjalin konsultasi demi mendorong terciptanya stabilitas di kawasan. Fraser mengungkapkan perlunya Australia untuk melakukan kerja sama konstruktif dengan negara-negara kekuatan menengah untuk mendorong inisiatif-inisiatif baru di bidang keamanan. Menarik dicermati, Fraser menyebut Indonesia sebagai negara potensial yang nantinya akan menyambut niat Australia.

Menlu Marty Natalegawa

Pemaparan Fraser yang menyebutkan peran penting Indonesia dalam mendukung stabilitas di kawasan mengingatkan saya pada adagium million friends zero enemy khas Kementerian Luar Negeri RI. Di saat yang bersamaan terlintas pula plesetan dari adagium tersebut million friends zero benefit. Adagium khas Kemlu RI ini ternyata benar adanya bahwa Indonesia dianggap penting dan cukup banyak yang ingin berteman dan mengambil keuntungan dari negara kita. Hanya saja, mungkinkah Indonesia dapat mengambil manfaat dari momentum kebangkitan Asia atau kita kembali tersenyum simpul di pinggir arena.

Negara maju seperti Australia berusaha keras untuk memastikan keamanannya dan merasa begitu khawatir dengan keberadaan Indonesia. Hingga Australia bersedia untuk menjadi bagian dari jaringan pertahanan A.S di Asia dan secara implisit menjadikan China sebagai objek acuan. Sementara, Indonesia dengan landasan kebijakan luar negeri bebas aktif memiliki kelincahan untuk bermanuver dalam berbagai isu. Suatu berkah yang masih mencari bentuk terbaik untuk dapat dimanifestasikan demi kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Berkah yang juga bisa menjadi kutukan bila kita tidak bisa menempatkan diri dengan baik dan menyerahkan masalah keamanan sepenuhnya di tangan para ‘elang-elang pemangsa’. Kelincahan kebijakan luar negeri bebas aktif juga dihadapi pada kenyataan bahwa Indonesia berada di kawasan yang tidak stabil dan penuh warisan konflik masa penjajahan. Kenyataan lainnya adalah Indonesia dikelilingi oleh basis-basis fasilitas militer A.S yang berada di Australia, Filipina, Filipina dan Jepang. Kebijakan luar negeri Indonesia senantiasa mengalami ujian dalam mempertahankan keberadaan republik ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: