IBRAHIMSCRIPT

Raksa Ibrahim-write to protect the unwritten

Narsime pemasaran politik kekerasan

leave a comment »


Catatan singkat:

Globalisasi membawa perubahan yang signifikan dalam interaksi antar negara. Perubahan yang diusung globalisasi di bidang teknologi informasi dan komunikasi menjadikan negara semakin rentan terhadap ancaman terorisme. Penggiat terror juga memanfaatkan kemajuan teknologi dan komunikasi untuk menyampaikan pesan-pesannya kepada khalayak dengan menciptakan ketakutan dan ketidak-percayaan terhadap pemerintah.

Baru-baru ini, saudara dari pemimpin Al Qaeda Ayman Al Zawahiri, Mohamed Al Zawahiri menawarkan diri untuk memediasi konflik Amerika Serikat dengan Al Qaeda. Hal ini sangat menarik untuk dicermati mengingat adanya kesamaan dengan beberapa tipe kelompok teroris seperti ekstrim sayap kanan, sayap kiri dan ethnonasionalime. Para aktor dalam kelompok terror selalu menyampaikan pesan dan tuntutannya kepada pemerintah demi mendapatkan pengakuan atas aksinya. Hal menarik lainnya adalah melihat kemungkinan dilakukannya pendekatan komunikasi non-kekerasan dalam penanggulangan terorisme.

Komunikasi yang dilakukan pemerintah dengan kelompok terorisme internasional didominasi dengan media senjata dan ancaman. Kedua belah pihak sama-sama merasa memiliki legitmasi atas tindakan yang dilakukannya. Negara yang mewakili rakyat merupakan institusi utama yang memiliki legitimasi  penggunaan kekerasan. Sementara, kelompok teroris secara perlahan meningkatkan kemampuannya untuk juga menggunakan kekerasan dalam menyampaikan aspirasi dan perjuangannya. Tren komunikasi ini secara tidak disadari menjerumuskan masyarakat ke dalam rantai kekerasan yang tidak berujung.

Meskipun teknologi komunikasi berkembang pesat, hal ini ternyata belum dapat menjembatani perbedaan antara pemerintah dengan kelompok terorisme. Kenyataan ini menjadikan rantai kekerasan semakin berliku.

Tantangan untuk melakukan komunikasi juga dibatasi dengan penolakan negara untuk berdiri sejajar dengan kelompok terorisme. Bagi Negara pengakuan terhadap kelompok terorisme berarti pembenaran terhadap tindakan kekerasan yang dilakukan di dalam wilayah terhadap keselamatan rakyatnya. Hal ini dapat memberikan sinyal yang keliru dan menurunkan kredibilitas negara di dalam dan luar negeri.

Selain itu, kegiatan terorisme juga terus bertransformasi dalam menjalankan aksi-aksinya. Saat ini, terorisme telah menjadi suatu bentuk hibrida antara kelompok terorisme dengan kelompok kriminal. Hal ini ditambah rumit dengan adanya terorisme yang tumbuh di dalam negeri dan dilakukan baik oleh perorangan maupun kelompok kecil. Keadaan ini juga menyebabkan komunikasi non-kekerasan antara pemerintah dengan kelompok terorisme sulit untuk terjadi.

Di tengah tantangan dalam penanggulangan terorisme, upaya untuk mengedepankan komunikasi non-kekerasan dengan kelompok terorisme dan elemen-elemen pendukungnya perlu dipertimbangkan. Hal ini perlu dikedepankan dalam upaya mencegah radikalisasi. Saat ini, terorisme telah berkembang menjadi narsisme ideologi ekstrim sekelompok penggiat kekerasan demi mendapatkan perhatian publik. Terorisme adalah sebuah pemasaran produk lawas yang dilandasi oleh rasa frustasi.

Oleh sebab itu, pendekatan komunikasi non-kekerasan seperti strategi-strategi pemasaran dapat dikedepankan. Beberapa langkah yang dapat dilakukan adalah: pertama, mengacaukan arus penyampaian pesan dari kelompok terorisme. Kedua, menawarkan alternatif lain dalam penyampaian aspirasi selain melalui kekerasan. Ketiga, memperkecil cakupan penyebaran ide penggunaan kekerasan. Keepat, meminimalisir efektifitas media penyebaran terorisme dan radikalisasi.

Munculnya tawaran dari Mohamed Al Zawahiri menunjukkan bahwa komunikasi non-kekerasan dimungkinkan untuk dilakukan dalam penanggulangan terorisme. Tawaran Al Zawahiri juga memperlihatkan bagaimana kegiatan politik kekerasan mencari peluang untuk mendapatkan perhatian publik.  Al Zawahiri telah menyampaikan pesan-pesannya secara efektif. Walaupun, intensi dan niatannya untuk menjembatani kelompok Al Qaeda dengan negara-negara Barat masih mengundang tanda tanya.

Written by Raksa Ibrahim

September 23, 2012 pada 12:48 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: