IBRAHIMSCRIPT

Raksa Ibrahim-write to protect the unwritten

Keseharian dalam ancaman krisis keuangan

leave a comment »


Catatan singkat:

Belum pernah dibayangkan sebelumnya, negara-negara seperti Spanyol dan Italia akan mengalami krisis keuangan yang cukup mengkhawatirkan. Yunani bahkan terancam bangkrut. Meski tidak secara langsung terkena imbas dari kriris keuangan, Indonesia  tidak kebal dari kemungkinan terkena krisis. Satu hal yang jelas, ketidaktahuan masyarakat mengenai sistem keuangan (kapitalisme) yang dianut secara luas dan rentan terhadap krisis akan semakin mempersulit kehidupan dalam keseharian.


Sistem keuangan global-kapitalis menawarkan perkembangan dan peningkatan kualitas hidup secara cepat namun, dengan efek samping yang dapat menghancurkan bila tidak dikelola dengan baik. Karena sistem kapitalisme menekankan pada ketersedian modal maka cara kerja dari sistem ini sangat mengandalkan dana pinjaman untuk dapat mendorong adanya pembangunan. Masalahnya adalah bila suatu negara gagal membayar pinjaman maka akan menimbulkan keresahan dan panik yang akan menciptakan larinya modal dari negara tersebut serta akan mempengaruhi negara-negara di sekitarnya. Bila penarikan modal dilakukan secara bersamaan dalam skala yang luas dan masif maka akan menimbulkan dampak sistemik yang berujung pada keresahan sosial.

Penjelasan sederhana yang pernah kita dengar adalah krisis moneter (krismon) mengakibatkan harga-harga naik secara drastis. Lalu apa yang mengakibatkan terjadinya krismon? Sepanjang sejarah, penyebab krismon ada beragam yang dipengaruhi kondisi dunia saat itu.

Ada baiknya kita mengenal sedikit tentang sistem keuangan global. Sistem keuangan global merupakan mekanisme dan prosedur pengelolaan keuangan yang meliputi inflasi, nilai tukar dan suku bunga  dalam berbagai transaksi yang bersifat lintas batas. Sampai saat ini, belum ada sistem keuangan yang dapat mengatur dengan jelas ketentuan transaksi keuangan yang rumit melibatkan banyak aktor. Meskipun, setelah berakhirnya Perang Dunia II lahir IMF dan Bank Dunia (WB) untuk dapat membantu memperjelas tata cara pelaksanaan sistem keuangan global. Hanya saja, kedua institusi tersebut dibentuk bukan untuk berperan sebagai regulator melainkan sebagai lembaga penyedia talangan bila sewaktu-waktu  negara-negara mengalami krisis keuangan.

Dalam proses pembentukan IMF dan WB, di Bretton Woods negara-negara terutama pemenang perang berusaha untuk menciptakan tatanan dunia baru yang dapat memperbaiki kondisi perekonomian yang hancur akibat perang. Salah satu isu yang dibahas adalah mengenai kebijakan moneter dan upaya memberikan stabiltas dalam nilai tukar. Nah, ketika itu disepakati bahwa mata uang akan menjadi mediator pertukaran mata uang dalam transaksi perdagangan menggantikan emas. Jadi nilai dollar dipatok dengan harga emas. Selain itu, disepakati pula kebebasan dalam perputaran arus keuangan. Hal ini menyebabkan negara tidak dapat mengontrol secara independen kebijakan moneternya. Modal asing memiliki kemungkinan menjadi liar dan tidak terkendali. Loh, bukankah negara memiliki kuasa untuk mengatur segala hal yang masuk ke dalam wilayahnya?

Pemilik modal memiliki kuasa untuk menggunakan dan menerapkan aturan terhadap penggunaan modalnya. Terlebih lagi, tergiur untuk mewujudkan pembangunan di negaranya, pemerintah cenderung membebaskan arus modal luar negeri dan tidak memiliki manajemen resiko yang memadai bila terjadi gagal bayar. Selain itu, pinjaman tersebut tidak dinvestasikan pada sektor riil yang memicu produktivitas perekonomian. Korupsi, kolusi dan nepotisme menambah parah pengelolaan utang.

Lalu, terjadilah keadaan dimana negara menjamin pinjaman asing yang dilakukan lembaga keungan domestik dengan mengabaikan kelayakan dari lembaga tersebut. Ketika terjadi gagal bayar maka terjadi penarikan modal dan muncul keraguan signifikan terhadap pemerintah. Hal ini semakin diperparah dengan meningkatnya beban utang negara karena pinjaman dilakukan dalam mata uang asing yang dipatok dengan mata uang lokal. Peningkatan utang negara berimbas  pada kenaikan harga barang-barang. Keadaan diperparah dengan kehadiran spekulan yang mencari keuntungan dalam krisis.

Belajar dari kesalahan ketika krisis, pemerintah-pemerintah di Asia menciptakan mekanisme kontrol terhadap arus modal asing  dengan lebih terukur melalui regulasi yang mengedepankan manajemen resiko dan kepastian dalam berinvestasi. Selain itu, pemerintah juga memberikan jaminan sebagai wujud perlindungan kepada nasabah.

Meski demikian, masih terlalu dini bagi kita untuk tenang.  Arus modal asing semakin bebas dan telah berinovasi dalam bentuk sekuritas, bond, ekuitas dan saham yang tentu saja menawarkan keuntungan besar dalam waktu singkat. Keadaan ini menjadikan sistem keuangan global semakin rentan dikarenakan diversivikasi produk belum diimbangi dengan informasi yang akurat dan terpercaya bagi masyarakat. Selain itu, meningkatnya keterkaitan satu negara dengan yang lain dalam hubungan moneter belum disertai adanya regulator penjamin stabilitas lintas batas dan penyediaan dana talangan bersama bila terjadi krisis.

Belum adanya mekanisme penjamin stabilitas dan lembaga penyedia dana talangan dalam proses pemulihan dari krisis mengakibatkan depresi ekonomi. Terjadinya depresi semakin sulit untuk diatasi tanpa adanya dana pinjaman terutama bila kiris keuangan melanda negara-negara anggota Uni Eropa yang notabene memiliki sistem pengelolaan keuangan yang maju dan membutuhkan dana talangan yang besar. Krisis keuangan yang terjadi di pusat keuangan dan ekonomi dunia menunjukan bahwa sistem keuangan global sangat rentan terhadap krisis. Krisis moneter hampir pasti mempersulit  rakyat yang senantiasa bergulat dengan keterbatasan dana dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Perlu kiranya membangun kepercayaan terhadap mekanisme sistem keuangan global. Salah satu cara adalah dengan  memberikan perlindungan terpercaya dan informasi yang mudah dipahami bagi masyarakat. Hal ini merupakan  bentuk transparansi dan usaha untuk mendapatkan kepercayaan dari rakyat secara luas. Sulit untuk dipungkiri bahwa masyarakat telah menjadi elemen nyata pembentuk pasar. Elemen kecil tanpa suara namun menanggung beban resiko yang besar dibandingkan elemen-elemen lainnya.

Written by Raksa Ibrahim

September 10, 2012 pada 9:02 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: