IBRAHIMSCRIPT

Raksa Ibrahim-write to protect the unwritten

Indonesia dalam Balance of Power

leave a comment »


Pendahuluan

Perubahan-perubahan yang terjadi di dalam kebijakan luar negeri (foreign policy) Indonesia tidak terlepas dari kondisi domestik dan luar negeri. Di dalam negeri perubahan ditandai dengan adanya demokratisasi, reformasi keamanan, otonomi daerah dan penegakkan HAM. Sementara, pergeseran perimbangan kekuatan dari bipolar menjadi multipolar, menguatnya saling ketergantungan (interdependency), munculnya aktor non-negara dan hadirnya isu-isu baru merupakan perubahan yang terjadi dalam sistem internasional.

Dari berbagai perubahan yang terjadi, pergeseran perimbangan kekuatan dari bipolar menjadi multipolar adalah pendorong bagi munculnya perubahan-perubahan lain dalam hubungan internasional.

Berakhirnya Perang Dunia II menandai perimbangan bipolar dalam politik dunia dengan munculnya Amerika Serikat dan Uni Soviet. Perimbangan kekuatan dalam bentuk bipolar memunculkan persaingan tajam antara dua negara adidaya yang dikenal dengan masa Perang Dingin. Perang Dingin berakhir dengan runtuhnya Uni Soviet serta munculnya Amerika Serikat sebagai kekuatan utama. Superioritas A.S setelah Perang Dingin dapat dikatakan sebagai bentuk Unipolar dalam politik dunia.

Selanjutnya, perkembangan-perkembangan yang terjadi kembali menggeser perimbangan kekuatan dalam politik dunia. Pergeseran perimbangan kekuatan ditandai dengan munculnya negara-negara middle power dan major power di level kawasan. Pergeseran kekuatan yang terjadi sering dikatakan sebagai multipolar dengan keberadaan lebih dari dua kekuatan utama serta kemungkinan berubahnya negara middle power menjadi great power.

Pertanyaan utama

Seiring dengan pergeseran balance of power dalam konstelasi politik dunia yang senantiasa berubah, apa bentuk perimbangan kekuatan yang menguntungkan Indonesia?

Balance of power

Balance of power adalah bentuk perimbangan kekuatan dalam politik dunia yang dilihat dari jumlah negara-negara pemegang kekuatan utama yang menjaga dan mempertahankan stabilitas dalam sistem internasional. Stabilitas dalam politik dunia diangap perlu demi terciptanya tatanan yang dapat menghindari terjadinya perang. Mekanisme balance of power diharapkan dapat menghindari perang berskala besar. Stabilitas di dalam balance of power dapat diartikan sebagai ketidakadaan perang dalam sistem.

Melalui balance of power keinginan suatu negara utama (great power) untuk menggunakan kekuatannya secara aktif ke luar dapat diredam atau mempertimbangkan keberadan great power yang lain. Selain itu bila terdapat suatu negara yang  meningkatkan kekuatannya dan mengancam stabilitas balance of power maka great power atau middle power dalam sistem akan bergabung untuk mencegah itu terjadi.

Siklus balance of power

Bipolar dalam politik dunia yang ditandai dengan keberadaan dua great power merupakan perimbangan yang memberikan stabilitas sistem internasional dalam durasi cukup lama. Hal ini bila menandakan bipolar terjadi tahun 1945 setelah berakhirnya Perang Dunia dan berakhir seiring dengan runtuhnya Uni Soviet tahun 1990. Perlu untuk diingat meskipun dalam kurun waktu tersebut tidak terjadi perang besar namun terdapat perang-perang kecil yang disponsori dan melibatkan dua kekuatan besar ketika itu.

Selanjutnya, unipolar dengan munculnya A.S sebagai kekuatan tunggal setelah Perang dingin dapat dikatakan merupakan masa transisi menuju pergeseran balance of power munuju multipolar. Superioritas dari A.S dalam menjaga balance of power dalam bentuk unipolar tidak dapat bertahan lama. Hal ini disebabkan munculnya ancaman keamanan kontemporer dan kehadiran major power di kawasan yang tidak sepaham dengan A.S. Keadaan ini mendorong kembali terjadinya pergeseran balance of power menjadi multipolar.

Oleh sebagian penstudi hubungan internasional balance of power dalam bentuk multipolar disinyalir sebagai perimbangan yang ideal dalam politik dunia. Ideal dalam artian tidak adanya negara dengan kekuatan yang terlalu dominan dalam sistem sehingga stabilitas sistem terjaga lebih langgeng. Keberadaan lebih dari dua great power akan mengahadirkan kesempatan bagi negara untuk bekerjasama membentuk tatanan perimbangan kekuatan yang lebih inklusif.

Pendapat lain mengatakan di dalam sejarah, multipolar dalam sistem internasional merupakan benih terjadinya perang dalam skala besar. Perang Dunia I terjadi disebabkan bentuk multipolar dalam bentuk Concert of Europe yang tidak dapat lagi menyokong stabilitas perimbangan kekuatan. Ketidakmampuan bentuk multipolar dalam menjaga stabilitas sistem disebabkan banyaknya negara dalam balance of power dengan kekuatan yang setara. Bila terdapat lebih dari dua negara dengan kekuatan yang setara maka perimbangan akan runtuh disebabkan hilangnya kekuatan penyeimbang dalam sistem.

Indonesia dalam Balance of Power

Politik luar negeri bebas aktif menempatkan Indonesia dalam posisi yang unik dalam perimbangan kekuatan di tingkat sub-regional secara khusus dan global secara umum. Keunikan Indonesia terletak pada haluan Indonesia yang berusaha menempatkan diri secara proporsional dalam setiap polar yang ada. Indonesia berusaha keras untuk mendapatkan keuntungan dari polaritas yang ada dengan menempatkan dua kakinya dalam kutub yang berbeda. Di saat yang sama, Indonesia juga berusaha menjadi peredam sengketa dan konflik antara great power di dunia.

Sejarah diplomasi Indonesia mencatat peranan strategisnya dalam meredam meruncingnya perimbangan kekuatan ke arah konflik. Salah satu upaya yang dilakukan Indonesia adalah melalui Gerakan Non Blok (GNB). GNB yang diinisiasi Indonesia bersama empat negara yang lain mengutarakan perlunya kubu alternatif dalam perimbangan kekuatan dengan tidak memihak ke dalam salah satu polar.

Lebih lanjut, ditinjau dari aspek geostrategis, Indonesia adalah emerging middle power dengan  lokasi geografis yang sangat strategis. Dua hal penting ini menjadi landasan bagi Indonesia untuk menentukan posisinya dalam perimbangan kekuatan. Secara geografis Indonesia berada dalam posisi strategis yang mengundang negara-negara great power untuk mendapatkan dukungan Indonesia. Hal ini juga menjadikan Indonesia sebagai tempat great power memainkan pengaruhnya dalam perimbangan kekuatan.

Seiring dengan terus berubahnya perimbangan kekuatan secara global disertai politik luar negeri bebas aktif menempatkan Indonesia di tengah-tengah great power dalam perimbangan kekuatan. Indonesia akan sulit bersaing dalam perimbangan kekuatan secara global. Namun, Indonesia dapat berperan sebagai penghubung antar major power di kawasan dan menjadi pemain utama di level sub regional.

Sebagai sebuah siklus balance of power dalam banyak hal tidak akan menguntungkan Indonesia. Hal ini dikarenakan upaya menjalin interaksi hubungan internasional dari aspek power akan mengecilkan posisi Indonesia. Pemain utama dalam balance of power adalah negara-negara great power. Keadaan ini menempatkan Indonesia dalam posisi yang dilematis. Terlebih Indonesia dengan lokasi geografis yang strategis telah menjadi arena bagi great power mengartikulasikan power-nya.

Penutup

Dalam merespon perimbangan kekuatan secara global dan regional Indonesia terus melakukan adaptasi dalam mengantisipasi perubahan perimbangan kekuatan. Indonesia secara kreatif dan aktif secara perlahan memberikan alternatif untuk menggeser cara pandang dalam melakasanakan hubungan internasional hanya melalui power. Indonesia dengan tegas menginisiasikan pentingnya aturan dan norma untuk mengarahkan perimbangan kekuatan agar tetap mengedepankan kehormatan bagi seluruh manusia.

Written by Raksa Ibrahim

April 1, 2010 pada 5:18 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: