IBRAHIMSCRIPT

Raksa Ibrahim-write to protect the unwritten

KRITIK DAN PROPAGANDA DALAM KOMIK

leave a comment »


Serangan teroris ke Amerika Serikat yang ditandai dengan runtuhnya World Trade Center di New York membuka lembaran baru konstelasi isu dalam politik dunia. Peristiwa itu juga turut mengubah pandangan masyarakat di A.S mengenai prioritas kebijakan luar negerinya. Sebagai respon, pemerintah A.S mulai mengadakan pencarian besar-besaran terhadap pelaku terorisme. Kebijakan ini terkenal dengan strategi pre-emptive strike yang merupakan bagian dari Global War on Terror-nya (GWOT) A.S, dengan target pertama Afghanistan.

Kebijakan penangkalan terorisme pemerintah A.S telah dinantikan oleh berbagai industri media masa dan masyarakat secara luas. Kebijakan yang satu ini pantas untuk mendapat porsi peliputan yang lebih. Hal ini dilakukan sebagai usaha media massa untuk kembali mengangkat moral dan kepercayaan diri rakyat untuk terus melanjutkan hidupnya. Upaya tersebut dilakukan dengan berbagai cara mulai dari konser musik, acara talk-show televisi, hingga aksi simpatik di kawasan ground zero.

Ditengah berbagai upaya tersebut, industri komik di Amerika juga mulai mengubah pengemasan, pencitraan, dan penceritraanya. Kemunculan berbagai edisi khusus dalam komik superheroes yang berlatar belakang perang melawan terror, seperti “Batman against bin Laden.” Serta muncul pula komik-komik arus bawah yang mencoba menggambarkan peristiwa 9/11 secara objektif. Komik-komik ini berusaha untuk menjelaskan apa yang terjadi sebelum dan sesudah peristiwa 9/11.

Salah satu komik yang menunjukan usaha tersebut adalah “The 9/11 Report: A Graphic Adaptation” yang dibuat oleh Sid Jacobson dan Ernie Colon. Komikus handal yang malang melintang dalam industri komik A.S. Jacobson sendiri adalah pencipta tokoh komik Richie Rich.

Tulisan ini merupakan usaha untuk melihat komik sebagai suatu objek pembelajaran dalam memahani peran media masa dalam pembuatan kebijakan luar negeri (foreign policy) suatu negara. Disini komik dilihat sebagai suatu saluran dan alat untuk mengkritisi pemerintah dan menginformasikan kebijakan pemerintah mengenai suatu isu kepada khalayak.

Politik dalam komik

Komik telah mengalami berbagai perubahan dalam banyak hal. Secara etimologis komik berasal dari comical yang dapat diartikan sebagai lucu, lelucon, dan kelucuan. Komik seringkali identik dengan kekanak-kanakan, ketidak-seriusan dan hiburan sekilas lalu. Dengan tumbuhnya industri komik di A.S dan Jepang, komik mulai diterbitkan lebih menantang dari segi cerita, sistematis dalam penyampaian, dan menarik dalam pengemasan.

Secara historis komik dibuat bukan untuk menghibur. Pada awalnya komik merupakan bagian dari kritik dan satire terhadap otoritas perihal kehidupan masyarakat. Serta tidak jarang komik sangat politis, rasis, dan sexist. Secara perlahan komik semakin berisikan hal-hal yang politis serta bersifat mengolok-olok. Kecenderungan tersebut terus terjadi hingga saat ini bahkan sangat dinantikan kehadirannya.[1]

Adalah keliru untuk mengatakan bahwa komik merupakan sesuatu yang bersifat konyol dan tidak serius atau bahkan kekanak-kanakan. Strip komik telah hadir dalam kurun waktu yang lama di tengah-tengah masyarakat. Selain itu pula komik mulai dipelajari dan dilihat lebih dari sekedar seni cerita bergambar. Sehingga tak ayal memunculkan definisi baru mengenainya. Salah satunya dilakukan oleh Scott McCloud yang mendefnisikan komik sebagai gambar dan ide-ide lain yang terjuktaposisi dalam runutan maksud, yang bertujuan untuk memahami informasi dan-atau menciptakan respon yang apresiatif terhadap pembacanya.[2]

Ledakan di WTC pada peristiwa 9/11

Ledakan di WTC pada peristiwa 9/11

Pembuatan komik sangat dipengaruhi oleh dua faktor yang berasal dari luar dan internal. Faktor internal mengacu pada idiosinkrasi komikus, latar belakang, tempat ia bekerja, serta riset dan desain penceritaan. Sedangkan faktor dari luar meliputi sistem politik, keadaan internasional, selera pasar, dan peta persaingan popularitas. Dalam pembuatannya tanpa disadari seringkali berifat ideologis.[3] Sebagaimana pendapat Arthur Asa Berger, bahwasanya segala bentuk ekspresi berkaitan erat dengan ideologi, politik, dan budaya pop.[4]

Hal ini menjadikan tema-tema dalam komik baik secara implisit maupun eksplisit bersifat politis serta mendukung salah satu pemikiran dan kritik terhadap suatu isu masa kini ataupun lampau. Hal ini semakin termanifestasi dengan kehadiran komik berkategori dewasa atau remaja yang bertema politik maupun yang bersifat politis. Dimana secara ekplisit berbentuk kritik, mendukung emansipasi dan ajakan untuk melawan kesewenangan.[5] Usaha tersebut direpresentasikan dan dicitrakan secara menarik dalam bentuk komik.

Kritik dan Propaganda

Komik 9/11 Report: A Graphic Adaptation merupakan komik yang dibuat berdasarkan laporan dari komisi 9/11. Sebuah komisi yang dibentuk untuk menyelidiki dan mencari fakta juga alasan-alasan mengapa serta bagaimana AS dapat diserang oleh kelompok teroris. Laporan dari komisi diharapkan dapat membantu berbagai pihak mengenai apa yang terjadi pada hari itu dan pada tahun-tahun sebelum terjadinya serangan. Laporan komisi ini mengahasilkan sebuah buku yang sangat tebal, berisi hasil temuan dan rekomendasi untuk mengantisipasi kembali terjadinya serangan teroris ke AS. Sayangnya, tidak semua masyarakat A.S membacanya disebabkan oleh berbagai hal.

Contoh penggambaran dalam komik yang sexist.

Contoh penggambaran dalam komik yang sexist.

Hingga akhirnya Jacobson dan Colon berinisiatif untuk memvisualisasikan laporan komisi ke dalam komik dengan tutur bahasa yang lebih ringkas dan dapat dipahami. Hal ini dilakukan dengan harapan dapat semakin memudahkan masyarakat untuk membaca isi laporan komisi. Selain itu komik ini dapat lebih menjangkau berbagai lapisan bawah masyarakat terutama remaja, pekerja, dan komunitas komik itu sendiri. Komik juga sesuai bagi mereka yang termasuk ke dalam tipe pembelajar visual.

Meski komik ini merupakan adaptasi dari laporan komisi 9/11, secara garis besar komik ini memvisualisasikan kegamangan pemerintah A.S dalam mengatasi potensi ancaman serangan teroris. Melalui penggambaran dalam komik diperlihatkan berbagai kelemahan, ketidak-siapan, dan perbedaan pendapat dalam penanganan masalah teroris.

Lebih lanjut, komik ini berusaha menunjukan kegagalan A.S dalam melindungi warganya dari serangan teroris. Kegagalan  yang menyebabkan A.S mengalami serangan terbesar untuk yang kedua kali di wilayahnya. Dimana kali ini sasarannya sangat signifikan dengan dampak yang besar serta dilakukan di masa damai dan bukan dilakukan oleh negara lain.

Kegagalan ini dikarenakan bibit persengketaan serta standar ganda yang diterapkan oleh pemerintah A.S dari masa ke masa. Terutama di kawasan Timur-Tengah setelah berakhirnya Perang Dunia II. Pada akhirnya A.S menuai sendiri bibit yang pernah mereka tanam. Salah satu contoh adalah Osama Bin Laden yang pada awalnya sekutu A.S ketika terjadi konflik di Afghanistan pada saat Perang Dingin. Kemudian berbalik melawan A.S disebabkan kekecewaannya terhadap sengketa Palestina-Israel. Kekecewaan ini kemudian dimanfaatkan untuk mendapatkan simpati dan dukungan dari orang islam di berbagai tempat.

Sementara itu, secara khusus kegagalan A.S dilihat melalui sedikitnya tiga hal. Pertama koordinasi yang lemah antar departemen dalam menghadapi kemungkinan terjadinya serangan. Setiap departemen/ instansi elit di A.S memiliki ego yang besar terutama dalam lembaga-lembaga intelijen yang ada di Departemen Pertahanan, CIA, FBI, dan NSA. Ego sektoral ini menyebabkan informasi yang terkait isu terorisme sering ditangani secara parsial berdasarkan wewenang dan tanggung jawab yang diberikan.

Kedua, keadaan diatas membuat para pembuat keputusan semakin kesulitan untuk mengatasi ancaman potensial dari kemungkinan serangan teroris ke A.S. Setelah beberapa kali terjadi penyerangan terhadap aset-aset milik A.S di luar negeri. Perdebatan yang sengit antar elit dalam menentukan kebijakan menyebabkan kebijakan yang dikeluarkan menjadi tidak maksimal.

Ketiga, kedua faktor diatas menunjukan dan menjadikan pemerintah A.S mengalami keterbatasan inisiatif dan kreativitas dalam mengatasi potensi ancaman serangan. Hal ini berdampak sangat buruk serta sukses memuculkan korban jiwa dan rasa takut di dalam kehidupan rakyat A.S. Dampak ini juga mempengaruhi situasi keamanan global secara keseluruhan.

Komik ini meski bermaksud untuk melakukan kritik terhadap pemerinta A.S, di saat yang bersamaan komik ini juga melakukan propaganda terhadap kebijakan A.S melawan teroris. Hal ini terjadi melalui penggambaran yang divisualisasikan secara eksplisit maupun implisit. Propaganda diartikan sebagai suatu kontrol, penggambaran dan manipulasi yang sengaja dilakukan dalam arus komunikasi dan informasi untuk mencapai tujuan politis tertentu.[6]

Secara eksplisit komik ini merepresentasi para pelaku teroris identik dengan janggut panjang, ras arab, misterius, berbahaya, dan fundamentalis. Hal ini memunculkan pandangan negatif terhadap muslim di seluruh dunia. Berdasarkan survey dari Media&Society Research Group Cornell University tahun 2004, menunjukkan persepsi warga A.S terhadap negara dan orang islam sangatlah buruk. Mayoritas warga A.S setuju bahwa umat dan negara islam adalah berbahaya, fanatik, dan kejam, serta terbelakang.

Sedangkan secara implisit komik ini berusaha mempengaruhi khalayak agar memberikan dukungan penuh kepada pemerintah untuk mengambil segala tindakan yang diperlukan untuk memberikan rasa aman bagi warganya. Pada awal lawatan invasi A.S di Afghanistan, mayoritas warga A.S sangat mendukung usaha pemerintahannya.Terlihat dari hasil survey yang dilakukan oleh lembaga yang sama menunjukan dukungan yang tinggi dalam kebijakan perang melawan terorisme. Sebagai informasi 42 persen warga A.S meyakini alasan perang melawan terorisme bertujuan untuk melindungi warga A.S dari serangan teroris di masa depan.

Penutup

Tanpa disadari komik sebagai suatu bentuk media massa telah menjadi alat politik yang berpengaruh. Di satu sisi komik merupakan otokritik terhadap keadaan dan kehidupan sosial masyarakat. Di sisi lain komik juga menjadi alat pendukung justifikasi implementasi kebijakan suatu negara. Hal ini tidak terlepas dari fungsi dan peran media massa ketika diproduksi lalu dipasarkan menjalankan suatu agenda setting. Lalu, hal ini akan membentuk opini publik melalui konstruk-konstruk realitas mengenai suatu isu. Terutama bila isu tersebut menjadi isu yang populer maka kepentingan dan power bermain di dalamnya.

Komik merupakan suatu media atraktif yang dapat digunakan untuk mempermudah pemahaman kita mengenai suatu isu global, terorrisme misalnya. Pemahaman akan memunculkan kritik cerdas dan tepat sasaran pada setiap hal-hal kecil yang terjadi di sekitar kita. Terakhir, komik merupakan situs yang kaya akan tanda (sign) dengan berbagai interpretasi yang dapat dimunculkan. Dalam pembahasan kali ini, interpretasi hanya dilakukan pada tataran permukaan. Oleh sebab itu, pada kesempatan ini saya mendorong teman-teman untuk bersama-sama memperdalam dan memperkaya interpretasi kita melalui diskusi interaktif yang merdeka.


*Ditulis untuk acara diskusi CONFORMEAST di Jurusan Hubungan Internasional UNPAD, 15 November 2007.

[1] Sebagai contoh di Indonesia adalah keberadaan strip komik Panji Koming dimana secara konsisten mengkritik berbagai persoalan sosial, politik, dan budaya. Lalu Beny&Mice yang dapat disebut sebagai satire kehidupan Indonesia. Selain itu hampir setiap media cetak memiliki ikon komik sebut saja Kompas dengan Oom Pasikom, Pikiran Rakyat dengan Mang Ohle, dan Poskota dengan Doyok.

[2] Scott McCloud. 1994. Understanding Comics: The Invisible Arts. New York: Harper., hal 1-2.

[3] Pada masa Perang Dunia komikus sering dipekerjakan untuk melakukan propaganda. Terutama selama PD II dan di masa Perang Dingin.

[4] Arthur Asa Berger. 2001. Politics In The Comics dalam Media Effect in USA., New York: Sage Publishing., hal. 34.

[5] Beberapa contoh komik tersebut adalah Kunimitsu, Ministry of Finance, Reds, Red Eye, Lord, V For Vendeta, Dalai Lama, Say Hello to Black Jack, dll.

[6] Tim O’Sullivan, Hartley, Saunders, dan Fiske. 1983. Key Concept In Communication. London: Methuen & Co.Ltd., hal. 185.

Written by Raksa Ibrahim

September 28, 2009 pada 7:53 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: