IBRAHIMSCRIPT

Raksa Ibrahim-write to protect the unwritten

MAN JADDA WAJADA: SUATU PERTEMUAN

with one comment


Man jadda wajada adalah sebuah mantra sakti. Mantra sakti ini diberikan oleh para pengajar di Pondok Modern Gontor kepada siswa-siswanya. Salah satu siswanya, A. Fuadi membagi pengalamannya mengenai mantra man jadda wajada dalam sebuah novel yang berjudul Negeri 5 Menara. Novel ini menceritakan kembali pengalaman-pengalaman penulis ketika belajar di Gontor. Pengalaman-pengalaman mengenai bagaimana  man jadda wajada menjadi panduan untuk meraih cita-cita. Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil.

***

Saya pertama kali mendapatkan informasi tentang Negeri 5 Menara dari mailing list HIMA HI UNPAD. Dalam mailing list tersebut diinformasikan bahwa salah satu alumni HI UNPAD baru saja menerbitkan novel. Mailing list juga menginformasikan link website novel tersebut. Dikarenakan penasaran, saya telusuri link novel tersebut untuk mendapatkan informasi lebih banyak. Setelah berselancar beberapa lama, saya berkeinginan kuat untuk membaca novel tersebut dan membelinya bila ada waktu.

5 Menara: Negeri 5 Menara

5 Menara: Negeri 5 Menara

Beberapa hari kemudian, Novel Negeri 5 Menara telah ada dalam genggaman. Saya hanya membutuhkan 1.5 hari untuk membaca tuntas novel ini. Hal ini dikarenakan penceritaan di dalamnya yang lucu dan sarat nilai kehidupan namun dikemas secara sederhana. Pengemasan cerita yang sederhana menjadikan novel ini ramah untuk dibaca dalam berbagai keadaan. Ketika kita sedih novel ini menyenangkan, di kala bete ia menggembirakan, ketika ingin menyerah ia menyemangati, ketika gagal ia memotivasi, dan ketika bahagia ia mengingatkan untuk bersyukur.

Pengalaman membaca Negeri 5 Menara sangatlah berharga. Di tengah berbagai ketidak pastian dalam hidup novel ini membuka mata kita untuk jangan pernah berputus asa. Kehidupan haruslah diringi dengan kesungguhan dalam berusaha dan doa kepada Allah. Seperti yang tercantum di buku tulis ketika saya SMP, if there is a will there is a way. Pepatah yang selalu relevan. Lalu, man jadda wajada melengkapi lubang dari pepatah tersebut mengenai kuasa ilahi.

Tuntunan takdir mengantarkan saya untuk bertemu langsung dengan A. Fuadi pengarang Negeri 5 Menara. Secara tidak disengaja, saya mengingat pernah membaca jadwal talk show Negeri 5 Menara bersama dengan A. Fuadi di Pondok Gede. Saya sedikit lupa tanggal dan jam pelaksanaanya. Saya hanya mengingat hari Sabtu sekitar pukul 17.00. Man jadda wajada, saya pun nekat berangkat ke Mall Pondok Gede siapa tahu ingatan saya benar. Sambil ngabuburit. Saya juga menyiapkan rencana lain yaitu mencari makanan untuk buka puasa, jaga-jaga agar perjalanan tidak mubazir jikalau ternyata acaranya terlewat atau ternyata saya salah.

Sesampainya di mall talk show yang dimaksud tidak terlihat. Lebih tepatnya saya tidak tahu lokasi pasti tempat pelaksanaanya. Setelah berputar beberapa lama, memesan makanan dan masuk ke toko buku, talk show tidak juga terlihat. Saya pikir saya terlambat karena jalan menuju mall cukup macet. Oke, saya memutuskan untuk pulang karena jam menunjukkan jam 17.30, sebentar lagi waktunya buka puasa. Saat menuju parkiran suara dari sekelompok penyanyi perempuan mengundang rasa ingin tahu saya. Saya intip, man jadda wajada, ampuh bener nih mantra,  ternyata mereka menyanyi dalam acara talk show yang baru dimulai.

Singkat cerita, saya mengikuti talk show dengan seksama. Saya juga berkenalan dengan A. Fuadi dan memperkenalkan diri baru lulus dari HI UNPAD. Saya berbicara beberapa saat dengannya dan diberikan sebungkus teh manis dingin untuk berbuka. Setelah itu, ia pun beranjak mengikuti kegiatan lain. Sebelumnya saya tidak lupa untuk meminta tanda tangan di novel Negeri 5 Menara yang telah dibeli. Satu untuk saya, satu untuk Ririe.

Pertama kali meminta tanda tangan sama orang selain guru dan orang tua.

Pertama kali meminta tanda tangan sama orang selain guru dan orang tua.

Kurang dari satu minggu sejak membeli Negeri 5 Menara  saya bertemu langsung dengan pengarangnya. Ini mungkin yang disebut dengan tuntunan takdir, kita tidak akan pernah tahu apa yang terjadi di masa depan. Hanya saja dengan kesungguhan, keberanian dan semangat kita dapat mewujudkan apa yang kita inginkan di masa depan. Keinginan ini dapat terwujud dengan memaksimalkan peluang dan memanfaatkan waktu secara maksimal dengan disertai doa. Terakhir, pengalaman saya membaca dan bertemu dengan pengarang Negeri 5 Menara adalah peristiwa yang sangat berkesan. Mudah-mudahan ini adalah berkah dan petunjuk dari Allah.

Written by Raksa Ibrahim

September 5, 2009 pada 5:35 pm

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Trimakasih utk buku khususnya,akan sgera aku baca utk mnemani dkala sedih, bete, dan slalu ingat utk brsyukur.
    Man Jadda Wajada!! Mari kt brsungguh² yin,mdh²an dberkahi Allah swt,amiin ..

    rie_yangku

    September 7, 2009 at 12:05 pm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: