IBRAHIMSCRIPT

Raksa Ibrahim-write to protect the unwritten

MENGELOLA SENSITIVITAS AMBALAT

leave a comment »


Sengketa ambalat antara Indonesia dengan Malaysia lagi-lagi mengundang perhatian masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia kali ini cukup geram dan jengkel tak tertahankan terhadap manuver Malaysia. Kita begitu mudah tersulut emosinya bila berkaitan dengan wilayah kedaulatan terutama bila berurusan dengan Malaysia. Hal ini di satu sisi menguntungkan namun di sisi lain dapat merugikan bila tidak dikelola secara arif dan bijaksana.

Hal yang menguntungkan dari isu persengketaan dengan Malaysia perihal Blok Ambalat adalah kembali tumbuhnya rasa kepemilikan terhadap Indonesia. Rasa memiliki atas negara ini yang seakan pudar kembali menunjukan sinarnya. Namun, bersinarnya kembali rasa memiliki hanyalah sesuatu yang semu dan sesaat bila masyarakat tidak terinformasikan dengan baik. Masyarakat perlu mengetahui informasi yang jelas mengenai sengketa di Blok Ambalat.

Pertama, isu Blok Ambalat adalah sengketa penetapan perbatasan laut antara Indonesia dengan Malaysia. Penetapan ini adalah konsekuensi atas kepemilikan Pulau Sipadan-Ligitan oleh Malaysia yang berimplikasi pada berubahnya garis perbatasan laut. Perubahan ini mengharuskan kedua pihak untuk merundingkan garis perbatasan lautnya. Indonesia kali ini meperjuangkan hak untuk mengeksplorasi sumber daya alam di perairan Blok Ambalat.

Perlu untuk diketahui sebelum perjanjian batas laut dengan Indonesia disepakati Malaysia telah mengklaim wilayah perairan yang luas di perairan Sulawesi. Klaim Malaysia didasari pada peta kontroversial yang dibuat tahun 1979. Kontroversi dari peta Malaysia adalah diabaikannya hak Indonesia sebagai negara yang berdaulat dan ketetapan hukum laut internasional (UNCLOS). Tindakan unilateral dari Malaysia inilah yang menjadi akar permasalahan sengketa di Blok Ambalat.

Kedua, berdasarkan UNCLOS sengketa perbatasan laut diselesaikan dengan cara damai. Terdapat empat prosedur penyelesaian sengketa: (i) melalui Mahkamah Internacional; (2) melalui Pengadilan Hukum Laut Internasional (ITLOS); (3) arbitrasi; dan (4) arbitrasi khusus (KBRI Singapura, 2004). Indonesia sebagai negara yang meratifikasi UNCLOS sudah sepatutnya menjalankan prosedur yang ditetapkan. Perang dengan pengerahan kekuatan militer besar-besaran masih belum perlu dilakukan. Selain mubazir, perang juga tidak sesuai dengan tujuan bangsa ini untuk berperan serta dalam menjaga perdamaian dunia.

Ketiga, dengan belum diperlukannnya mendeklarasikan perang maka diplomasi patut untuk dikedepankan. Hal yang perlu dicatat adalah perundingan penetapan perbatasan laut membutuhkan waktu yang cukup lama. Adalah tidak mungkin kesepakatan akan tercipta dalam waktu singkat. Penetapan garis perbatasan di laut memerlukan argumentasi yang dilengkapi dengan bukti-bukti historis, legal dan teknis untuk memperkuat klaim hak atas suatu perairan. Hak ini berupa otoritas untuk mengeksplorasi sumber daya di dalamnya secara sah.

Keempat, bila ditinjau dari bukti yang ada saat ini Indonesia memiliki hak untuk berdaulat di Blok Ambalat. Hak ini bisa dilihat dari fakta sejarah bahwasanya Indonesia semenjak tahun 1970 telah memberikan konsesi penambangan minyak lepas pantai di Blok Ambalat. Selama itu pula Malaysia belum pernah mengajukan keberatan. Berdasarkan praktik negara (state practice) dalam menetapkan garis perbatasan, Indonesia memiliki landasan kuat untuk mengklaim hak untuk berdaulat di Blok Ambalat.

Empat informasi sederhana di atas dapat dijadikan katalis bagi masyarakat untuk mengelola sensitivitasnya dengan lebih arif dan bijaksana. Sensitivitas yang dapat mengerakan kembali keingintahuan dan rasa memiliki di masyarakat terhadap wilayah Indonesia. Sensitivitas yang dapat menyalurkan emosi masyarakat secara propossional, cerdas dan pada tempatnya. Pengelolaan emosi masyarakat yang baik dapat mendukung upaya diplomasi yang dilakukan pemerintah.

Written by Raksa Ibrahim

September 4, 2009 pada 5:13 pm

Ditulis dalam Uncategorized

Tagged with , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: