IBRAHIMSCRIPT

Raksa Ibrahim-write to protect the unwritten

Manusia Perahu Rohingya, Proteksionisme Migrasi Tiada Akhir

leave a comment »


Pada 7 Januari 2009 sebanyak 193 laki-laki Rohingya dewasa terdampar di perairan Pulau Weh Sabang, Indonesia. Mereka merupakan para migran yang bertujuan untuk mencari pekerjaan di Malaysia. Etnis Rohingya berasal dari daerah perbatasan antara Myanmar dan Bangladesh. Di Myanmar mereka mendapatkan perlakuan diskriminatif dari penguasa di sana. Hal ini menyebabkan arus pengungsian etnis Rohingya dari Myanmar ke Bangladesh. Manusia perahu dari etnis Rohingya bukan pertama kali terdampar di Indonesia, sebelumnya pada 3 Februari 2008 rombongan dari etnis yang sama berjumlah 194 orang terdampar di Idi Rayeuk, Aceh Timur.

Manusia Perahu Rohingya

Manusia Perahu Rohingya

Kali ini manusia Perahu Rohingya berlayar menuju Malaysia, di tengah perjalanan memasuki perairan Thailand, mereka dihentikan lalu disiksa oleh aparat Angkatan Laut (AL) Kerajaan Thailand. Aparat AL Kerajaan Thailand juga telah merusak mesin kapal yang digunakan etnis Rohingya sebelum digiring ke laut lepas. Tindakan berlebihan dari AL Kerajaan Thailand ini telah mendapat kecaman dari komunitas internasional. Hingga akhirnya mereka terdampar di wilayah perairan Indonesia.

Departemen Luar Negeri (DEPLU) RI telah melakukan berbagai tindakan yang diperlukan untuk mengatasi permasalahan ini. DEPLU RI telah melibatkan pihak-pihak terkait seperti United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) dan International Organization for Migration (IOM) untuk mencari tindakan yang tepat untuk mengatasi hal ini. Masalah ini mendapat sorotan luas dari komunitas internasional terutama mengenai perlunya pemberian bantuan kemanusian bagi etnis Rohingya yang terdampar di Sabang. Indonesia telah mengambil bagian dan peranannya dalam menangani kasus manusia perahu Rohingya hingga proses verifikasi dan penyelidikan selesai.

Peta asal etnis Rohingya berasal di perbatasan Myanmar dan Bangladesh

Peta asal etnis Rohingya berasal di perbatasan Myanmar dan Bangladesh

Lalu bagaimana nasib manusia perahu Rohingya selanjutnya? Dalam kasus kemanusian mengenai manusia perahu, biasanya terdapat tiga opsi penanganan. Pertama, repatriasi, yaitu pemulangan kembali ke daerah asal. Dalam kasus ini kemungkinan besar manusia perahu Rohingya akan dipulangkan kembali ke Banglasdesh untuk selanjutnya kembali ke kampung halamannya sendiri. Kedua, dengan cara self-found solution atau secara sembunyi-sembunyi memasukan mereka ke negara tujuan awal mereka dalam kasus ini Malaysia.Ketiga, mencari negara ketiga yang bersedia menerima dan memberikan jaminan keamanan bagi mereka.

Arus pengungsian terus terjadi dari tahun ke tahun. Hal ini disebabkan oleh faktor pendorong dari tempat asal para pengungsi berasal seperti perang, kemiskinan, penyiksaan dan kelaparan. Faktor pendorong ini pula yang memiliki potensi untuk dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk menyelundup dan menjual mereka. Hal ini merupakan ancaman terhadap keamanan di kawasan yang termasuk dalam ranah human security. Oleh sebab itu, upaya-upaya kerjasama penangangan masalah human traficking dan people smuggling perlu digalakan. Seperti yang terjadi pada tanggal 14-15 April 2009 di Bali dalam The Third Regional Ministerial Conference on People Smuggling, Trafficking in Persons, and Related Trannational Crime.

Hal yang patut digaris bawahi dari kasus manusia perahu Rohingya adalah ketidak-adilan sosial dan ekonomi di suatu negara akan memicu terjadinya arus pergerakan manusia dalam jumlah besar ke negara lain. Hal lain yang menarik bahwasanya sebagaimana yang pernah diutarakan P. Swantoro, “negara tidak saja melakukan proteksionisme di bidang perdagangan tetapi telah semakin proteksionistis mengenai pengungsi” (Swantoro, 2007: 337).

Proteksionieme terhadap migran dilakukan secara brutal oleh AL Thailand. Proteksionisme terhadap migrant juga terjadi dalam bentuk munculnya resistensi secara konstitusional melalui partai politik yang menolak kehadiran kaum migran di suatu negara, semisal One Nation Party di Australia. Proteksionisme terhadap kaum migrant yang terwakilkan di suatu negara akan mengeluarkan kebijakan yang membatasi kehadiran kaum migran. Jika proteksionisme terhadap kaum migran terus terjadi, maka diperuntukan bagi siapakah bumi dan isinya ini?

Arus migrasi internasional kemungkinan besar akan terus terjadi selama dunia bergerak tidak menentu ke arah ketegangan, ketimpangan sosial dan ekonomi serta ketiadaan kepemimpinan domestik yang merangkul semua golongan dan kepemimpinan kolektif di kawasan yang berkomitmen terhadap kemanusiaan.

Written by Raksa Ibrahim

April 24, 2009 pada 9:16 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: