IBRAHIMSCRIPT

Raksa Ibrahim-write to protect the unwritten

Pedra Branca, Publisitas Penyelesaian Sengketa Secara Damai

with 5 comments


Peta perairan sekitar Pedra Branca

Peta perairan sekitar Pedra Branca

Pedra Branca, nama sebuah pulau seluas 8560 meter persegi yang berdekatan dengan Pulau Bintan (Indonesia) di wilayah sekitar Selat Singapura. Pulau ini diperebutkan oleh Malaysia dan Singapura. Kedua negara mensengketakan perihal pihak mana yang berdaulat terhadap pulau tersebut dan gugus pulau (middle rock dan south ledge) disekitar Pedra Branca. Pengakuan kedaulatan terhadap Pedra Branca secara legal memiliki konsekuensi bertambah luasnya wilayah territorial Malaysia dan Singapura. Bagi kedua negara hal ini dapat memperluas pengaruhnya di perairan Selat Malaka dan pemanfaatan segala potensi bawah laut di perairan tersebut. Singkat kata, sengketa Pedra Branca mirip dengan Sipadan-Ligitan  antara Indonesia dengan Malaysia.

Tulisan singkat ini mencoba melihat sengketa Pedra Branca melalui sebuah buku berjudul Pedra Branca. The Road to  the World Court karya S. Jayakumar dan Tommy Koh. Kedua penulis selama tiga dasawarsa berkecimpung mewakili Singapura dalam penyelesaian sengketa Pedra Branca. Buku ini menyajikan informasi dan penuturan yang menarik mengenai proses penyelesaian sengketa Pedra Branca melalui International Court of Justice (ICJ) alias World Court (Mahkamah Internasional).

Pedra Branca. The Road to the World Court (Buku)

Pedra Branca. The Road to the World Court (Buku)

Pedra Branca awalnya ada di dalam kekuasaan Sultan Johor yang berada di bawah pengaruh Inggris. Pedra Branca memegang peranan penting dalam jalur pelayaran di Selat Malaka oleh karena itu penguasa Inggris ketika itu memutuskan membangun mercusuar untuk memberikan keamanan bagi kapal-kapal yang melewati perairan tersebut.

Sengketa ini dimulai pada 21 Desember 1979 ketika Malaysia mengeluarkan peta yang menunjukan Pedra Branca berada dalam kekuasaannya. Klaim ini memunculkan keberatan dari Singapura yang juga merasa memiliki hak atas pulau tersebut. Kedua negara sepakat untuk membawa masalah ini ke ICJ. Lalu dimulailah penyelesaian sengketa secara damai oleh kedua negara.

Masalah ini dapat diibaratkan seperti sebuah bangunan/properti (mecusuar) yang berada di sebuah lahan milik orang lain yang tunduk pada pendiri bangunan tersebut. Hal ini memunculkan klaim-klaim atas siapa yang mewarisi Pedra Branca setelah Inggris meninggalkan anak koloninya. Jadilah kedua negara saling klaim mengenai Pedra Branca, di satu sisi Malaysia menganggap Pedra Branca berada di bekas wilayah kesultanan Johor dan pendirian mercusuar di sana atas ijin Sultan oleh karena itu saat ini Malaysia sebagai kelanjutan Kesultanan Johor merasa berhak atas Pedra Branca. Di sisi lain Singapura menganggap Pedra Branca dengan Mercusuar Horsburgh merupakan warisan dari wilayah kekuasaan Inggris, Singapura sebagai pewaris Inggris merasa berhak atas penguasaan pulau tersebut. Singapura juga merasa Pedra Branca berada jauh dari batas wilayah perairan Johor.

Hal yang menarik dari sengketa ini bahwasanya, Mochtar Kusumaatmadja yang menjabat sebagai Menteri Kehakiman pada tahun 1977 telah menduga sengketa yang akan terjadi bila Malaysia turut mengklaim Pedra Branca dengan Singapura. Ia juga mengungkapkan jika Pedra Branca dimiliki Singapura akan memberikan ZEE pada ukuran yang hampir seluas negara pulau itu (Jayakumar&Koh:2-3: 2009).

Hal menarik yang dapat dari kasus Pedra Branca antara lain:

  1. Penyelesaiaan sengketa (settlement of dispute) secara damai melalui ICJ memerlukan waktu yang sangat lama.
  2. Sumber-sumber pengajuan klaim tersedia di arsip nasional negara yang pernah berkuasa di daerah yang menjadi sengketa. Di sana data-data berupa surat, dokumen, berkas dan gambar dirawat dalam kondisi yang layak untuk dibaca.
  3. Sengketa mengenai wilayah selalu menimbulkan ketegangan antara pihak yang bersengketa dan memunculkan sentimen nasionalisme sesaat di dalam negeri yang dapat membahayakan stabilitas dan ketegangan di kawasan.
  4. Sengketa wilayah antar negara selalu disertai dengan penunjukan (show off) kekuatan militer kedua negara di wilayah yang diklaim sebagai miliknya.
  5. Sengketa muncul ketika secara sepihak salah satu negara mengklaim wilayah orang lain sebagai miliknya dan memasukkannya ke dalam peta wilayah kekuasaannya. Atau salah satu pihak memulai aktivitas yang berusaha mencengkram kepemilikan di wilayah tersebut dengan membangun fasilitas umum dan komersial seperti mercusuar, resort ataupun mengadakan eksplorasi minyak lepas pantai.
  6. Pengakuan kedaulatan secara legal suatu wilayah bagi negara akan mengubah garis wilayah perbatasan dengan negara-negara tetangganya.

Pedra Branca dan Mercusuar Horsburgh

Pedra Branca dan Mercusuar Horsburgh

Pedra Branca berdasarkan keputusan dari ICJ tanggal 23 Mei 2008 menetapkan Singapura sebagai pihak yang berdaulat atas pulau tersebut. Malaysia tetap memperoleh hak untuk berdaulat atas Middle Rock, sementara South Ledge berada di bawah kekuasaan wilayah perairan negara gugus karang itu berada, perairan tempat South Ledge itu saling overlap dengan wilayah Malaysia dan Singapura.

Usaha untuk menyelesaikan sebuah sengketa secara damai merupakan jalan terbaik untuk menghindari pengorbanan nyawa yang tidak dibutuhkan. Masalah perbatasan baik darat, laut, maupun udara selalu akan ramai diperdebatkan dikarenakan pentingnya kedaulatan bagi negara sebagai warisan Perjanjian Westphalia 1648. Setitik wilayah sangat berarti bagi sebuah negara dan masyarakat di dalamnya dan hingga saat ini selalu dipertahankan dan diperjuangkan terus menerus. Sebagaimana ungkapan refleksi diri para perunding batas maritim Indonesia: “setitik sentuhan di dahi dan sejengkal tanah di darat” yang berasal dari ungkapan Jawa kuno dalam mempertahankan tiap tanah air dengan jiwanya.

Buku Pedra Branca. The Road to World Court adalah buah manis dari usaha penyelesaian sengketa secara damai oleh Singapura yang memberikan keluaran yang sesuai harapan dan kepentingan negaranya. Penuturan keberhasilan perjuangan selama tiga dasawarsa oleh kedua penulis merupakan harta yang dapat dipelajari bagi generasi muda ASEAN di masa mendatang.

Usaha membagi pengalaman mengenai proses penyelesaian secara damai juga layak untuk dilakukan oleh pihak yang tidak mendapatkan keluaran sesuai harapan seperti Indonesia dalam sengketa Sipadan-Ligitan. Hal ini perlu dilakukan agar masyarakat terinformasikan dengan jelas mengenai apa yang terjadi, proses penyelesaian sengketa, usaha-usaha yang dilakukan dan keluaran dari penyelesaian sehingga masyarakat mengerti dan belajar untuk mengahadapi tantangan serupa di masa depan dan yang paling penting menghargai usaha penyelesaian sengketa secara damai oleh para diplomat, ahli hukum internasional, dan seluruh komponen yang tergabung sebagai delegasi perundingan perbatasan RI dalam memenuhi tuntunan UUD 45 untuk turut serta dalam menjaga perdamaiaan dunia.

Written by Raksa Ibrahim

April 16, 2009 pada 5:43 am

5 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Pedra Branca terletak di utara Pulau Bintan tepatnya di jalur pelayaran yang sangat strategis yang melalui selat singapura dam selat Malaka. Kasus Pedra Branca ini merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi semua yang terlibat dalam masalah perbatasan baik pemerintah, anggota DPR, mahasiswa dan akademisi serta elit politik. Kasus ini juga menunjukkan bahwa untuk meyelesaikan suatu permasalahan sengketa perbatasan diperlukan usaha yang serius dan berkelanjutan serta mengerti dan memahami permasalahannya dengan jelas.

    Rahman Ibrahim

    April 16, 2009 at 1:19 pm

    • afternoon sir, my name aditya, would you help me to give a book “PEDRA BRANCA” (The Road To The World Court), i very need this book for my final test. thanks before and can you sent to my email adit_6236@yahoo.co.id

      sincerely,

      aditya

      aditya

      Juni 22, 2009 at 6:31 am

      • Gimana caranya??

        nuibra

        Juni 25, 2009 at 5:17 am

  2. kalau melihat foto yang ada di artikel, ternyata Pedra Branca sangat kecil. Tapi memang betul, dampak kepemilikannya sangat besar terhadap wilayah jurisdiksi dan ZEE sebuah negara. Menurut Raksa, setelah membaca buku itu, mana yang lebih berpeluang memiliki Pedra Branca, Malaysia atau Singapura?

    budikurniawans

    April 18, 2009 at 10:54 am

  3. Budi, Pedra Branca telah ditetapkan oleh ICJ sebagai milik/hak Singapura. Sementara Middle Rock tetap dimiliki Malaysia dan South Ledge dimiliki oleh negara yang menguasai wilayah perairan dimana South Ledge berada.South Ledge berada/overlap di wilayah perairan Malaysia dan Singapura.

    Singapura dalam argumentasinya di ICJ memiliki dasar pemikiran, bukti dan gugatan yang lebih kuat daripada Malaysia. Sehingga Pedra Branca dikuasai oleh Singapura, bahkan Indonesia sedang/telah melakukan perundingan perbatasan dengan Singapura perihal perubahan garis batas laut dengan Singapura. Cek: http://www.deplu.go.id/?press_id=831

    nuibra

    April 19, 2009 at 2:22 pm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: