IBRAHIMSCRIPT

Raksa Ibrahim-write to protect the unwritten

Security Dilemma: Mereda atau Selalu Ada?

leave a comment »


_39179273_missile_203_2.jpgKeamanan menjadi suatu hal yang diperjuangkan oleh negara. Terutama untuk mengatasi ancaman yang sifatnya militer. Untuk memenuhi tuntutan tersebut negara sering dihadapi pada pilihan kebijakan yang sifatnya dilematis. Dikarenakan usaha untuk mengamankan negara dengan meningkatkan kemampuan militer baik daya tangkal maupun daya serang menimbulkan kecurigaan. Terlebih bila hal ini terjadi di masa Perang Dingin.

Keadaan dilematis ini disebut sebagai security dilemma, yang berarti peningkatan pengamanan suatu negara yang mempengaruhi negara lain (Hough. 2005). Hal ini sebagaimana asumsi realis untuk melanggengkan balance of power antar negara. Agar lebih jelas security dilemma merupakan suatu kondisi dimana usaha untuk memajukan keamanan nasional memiliki efek yang terlihat sebagai ancaman bagi negara lain, sehingga memprovokasi untuk melakukan tindakan balik.(Grifftihs dan O’Callaghan.2002). Lalu kondisi ini terjadi lebih karena keadaan dan lingkungan.

Lebih lanjut apakah security dilemma akan selalu ada, dan bisakah hal ini diredakan. Untuk mencari atas jawaban dari pertanyaan diatas maka kita harus mengetahui mengapa hal tersebut dapat muncul dan mengapa hal tersebut sangat erat kaitannya dengan upaya mewujudkan keamanan nasional suatu negara. Menurut saya, security dilemma akan selalu ada dan tentu hal ini dapat diredakan.

John Herz adalah orang pertama yang mengartikulasikan konsep ini di tahun 1950an. Menurutnya hal tersebut merupakan tindakan alamiah negara terutama kaitannya dengan self-help untuk menciptakan rasa aman terhadap dirinya dan menjadikan hal tersebut sebagai potensi ancaman (Baylis dan Smith. 2005). Lalu, berdasarkan perpektif realis dalam lingkungan yang menuntut adanya self-help, negara menghadapi ketidakpastian yang tidak dapat dipecahkan mengenai keberadaan militer yang disiapkan negara lain. Hal ini dimaksudkan untuk pertahanan maupun tujuan lain.

Peningkatan kemampuan militer suatu negara merupakan suatu hal yang lumrah dilakukan oleh suatu negara. Negara melakukan pembelian senjata baru untuk menambah atau memperbaharui alat utama sistem pertahanan (alutsista). Menurut saya security dilemma bukan berarti perlombaan senjata (arms race) dikarenakan pemenuhan kemampuan pertahanan dalam penyediaan teknologi dan senjata bagi militer merupakan suatu keharusan. Hal ini akan terus dilakukan selama negara itu ada.

Kita dapat mengambil Indonesia sebagai contoh, sebagai negara yang memiliki wilayah yang luas serta garis pantai yang panjang membutuhkan kemampuan pertahanan laut tingkat tinggi, untuk mengamankan wilayahnya dan menegakan hukum di wilayah kedaulatannya. Serta Australia yang terus meningkat kemampuan teknologi penangkal rudal balistik. Selain itu rencana Amerika Serikat (AS) untuk menempatkan rudal balistiknya di Ceko dan Polandia. Lalu Cina yang terus meningkatkan anggaran belanjanya untuk mengamankan wilayahnya secara defensif.

Dari ilustrasi diatas hal tersebut bukanlah sesuatu yang perlu dibesar-besarkan. Dikarenakan negara memiliki alasan dalam melakukannya, baik untuk defensif maupun tujuan lain. Namun negara sering kali paranoid untuk kehilangan pengaruhnya di suatu kawasan. Dan menganggap tindakan tersebut sebagai ancaman. Sehingga menjadikan security dilemma sebagai potensi penyulut konflik di kawasan tertentu, namun tidak demikian di kawasan yang memiliki perekonomian yang maju.

Hal ini menunjukan bahwa hal ini dapat diredakan. Menurut beberapa penstudi hubungan internasional negara dengan kemampuan ekonomi serta berada di kawasan yang cenderung stabil, security dilemma sulit untuk terjadi. Sebagai contoh kawasan Oceania, Australia dan Selandia Baru belum pernah terdapat hal semacam itu, dimana masing-masing pihak merasa terancam dengan kemampuan militer satu sama lain. Lihat juga A.S dan Kanada yang hingga saat ini belum pernah terjadi perang antar keduanya walau sering beselisih paham.

Ilustrasi tersebut menunjukan bahwa security dilemma memiliki potensi untuk mereda. Bagaimana caranya? Sebagaimana pandangan konstruktivis yang mengatakan anarchy is what the state makes of it, ditambah lagi keamanan merupakan sesuatu yang dikonstruksi sehingga memungkinkan untuk direvisi. Dalam hal ini yang diperlukan adalah distribusi ide yang seimbang untuk mengubah segala ketidak-percayaan dan ketakutan menjadi suatu saling pemahaman mengenai tanggung jawab negara untuk melindungi rakyat dan wilayahnya. Dimana hal tersebut perlu didukung oleh kapabilitas militer yang memadai.

Sehingga, security dilemma akan selalu ada terutama bila keamanan negara perlu untuk terus terjamin. Negara memiliki kewajiban untuk melindungi dan mempertahankan negaranya juga memiliki hak untuk melakukan apapun untuk mewujudkannya selama sesuai dengan konstitusi negara tersebut. Di sisi lain hal tersebut memiliki potensi untuk mereda bila masing-masing pihak dapat menahan diri dan mengedepankan dialog untuk menciptakan distribusi ide yang seimbang antar pihak. Terutama perihal peningkatan kapabilitas persenjataan mereka. Hal ini cukup relevan dan berguna untuk menghilangkan rasa saling curiga, melalui dialog serta transparansi anggaran belanja militer misalnya.

Written by Raksa Ibrahim

Januari 21, 2008 pada 1:11 am

Ditulis dalam Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: