IBRAHIMSCRIPT

Raksa Ibrahim-write to protect the unwritten

Politik Cinta.Aplikasi Studi Hubungan Internasional

with 2 comments


Hubungan Internasional menjadi awal dari sebuah mimpi untuk kehidupan yang lebih baik di masa depan, suatu kajian yang inpirasional. Tempat dimana kita dapat membuka mata dan memperluas wacana tentang apa yang terjadi di dunia dari berbagai sisi. Kiasan IR is where the world begins tidaklah keliru.

Tulisan ini merupakan usaha untuk melihat sejauh mana studi hubungan internasional dapat diaplikasikan dalam keseharian. Suatu upaya mencari cinta dan arti kehidupan sejati. Tanpa harus melulu mengenai hal-hal yang sifatnya lintas batas.

Menambah istilah yang mengikuti kata politik di Indonesia, semacam politik banjir, politik uang, dan politik adu domba. Politik cinta tampaknya jarang dikemukakan. Mengutip Laswell bahwa politik adalah who gets, what, when and how. Maka Politik cinta adalah pendekatan untuk mendapatkan cinta seseorang selama hayat dikandung badan dengan strategi yang tepat.

Selanjutnya, hubungan internasional bila kita sadari telah memberikan bekal yang cukup untuk melakukan hal tersebut. Pertama, sama halnya dengan pandangan liberalisme mengenai sistem internasional demikian juga dengan dunia cinta. Bahwasanya, setiap orang memilki kebebasan yang sama dan saling membutuhkan satu sama lain (interdependence).

Lalu, untuk mendapatkan dan memperjungkan tujuan. Yang perlu diperhatikan adalah persiapan dan implementasi strategi yang telah disiapkan. Setelah sebelumnya dirumuskan secara seksama, dengan menggunakan model perumusan kebijakan luar negeri (rational, decision-making, adaptive model, dll). Melalui perumusan tersebut maka mengetahui kekuatan dan kelemahan diri adalah penting.

Hasil perumusan strategi menjadi acuan untuk melakukan tahap selanjutnya. Hal tersebut meliputi propaganda dan spying, lobi, dan mutual assured desire (MaD). Propaganda yang apik menjadi sangat penting untuk menciptakan citra diri yang positif. Sehingga, ‘target’ mengakui keberadaan kita. Serta kita mulai mencari banyak data untuk memenangi hati dan pikirannya.

Lebih lanjut, pendekatan melalui lobi-lobi yang intens secara frontal maupun gerilya perlu dilakukan. Dengan mendekatkan diri pada ‘target’ dan mulai melakukan hal-hal kecil tentu akan sangat menyenangan baginya. Memperlakukannya secara special (tidak berlebihan) terutama bila itu disenanginya, akan makin mendekatkan perasaan satu sama lain. Hal tersebut berarti persentase keberhasilan akan makin besar. Tentunya dengan niat yang baik dan tulus. Di sinilah, kita menentukan untuk terus maju, mundur, maupun mundur perlahan-lahan dan mulai meningkatkan kualitas. Saat inilah faktor mental menjadi sangat berpengaruh.

Pada akhirnya setelah dirumuskan, kampanye propaganda, dan lobi yang dilakukan secara seksama. Tibalah waktunya untuk menggelar penyerangan besar-besaran. Bila dalam menembakan nuklir ada istilah mutually assured destruction dalam politik cinta terdapat mutually assure desire, kepastian untuk mengatakan apa yang diinginkan. Pastikanlah mengatakanya dengan yakin, lantang, dan penuh perasaan.

Apapun jawaban yang didapatkan baik yang memuaskan maupun kurang memuaskan. Hubungan baik perlu untuk terus dipertahankan. Walau terkadang hidup tidak selalu berjalan seperti yang diinginkan. Maka penerapan manajemen resolusi konflik, seperti penyelesaian konflik secara damai (peaceful settlement of disputes), dapat digunakan untuk mengkompromikan beberapa masalah.

Tentunya kita ketahui cinta tak harus memiliki. Namun, sudahkah kita sadari bahwa terkadang kita tidak menyadari siapa yang hadir dalam kesusahan, di setiap tangisan, dan di kesendirian kita. Bukankah dia yang pantas berjalan bersama kita menantang riuh rendah kehidupan. Hanya saja ia tidak hadir dalam mimpi kita, tidak sesuai dengan spesifikasi, bukan yang diharapkan, mungkin kita terlalu malu atau enggan mengakuinya.

Tanyakanlah pada diri kita sudah bahagiakah kita saat ini. Berapa kali kita dikecewakan oleh berbagai hal. Seringkah kita merasa salah tempat (out of place), terpinggirkan, diacuhkan, dan dilecehkan. Atau mungkin kita meminggirkan, menghina, mengacuhkan, dan melecehkan pihak tertentu. Hanya kita dan tuhan yang mengetahui jawabannya.

Apapun jawabannya, mulai saat inilah kita harus merubah pola interaksi yang ada di lingkungan kita. Dengan mengajak teman-teman yang lain untuk berpartisipasi dalam mengembangkan diri, menikmati hidup, dan mengejar cita-cita.

Terakhir, tentunya tulisan ini sangat tidak akademis. Namun, Hubungan Internasional mengajarkan sesuatu yang luas dan sering kali kita dapat menggunakannya dalam keseharian. Seperti menghargai sesama dan bukan meminggirkan siapapun, dengan memberikan akses dan kesempatan yang sama. Menurut saya, hal inilah yang harus diperjuangkan dan dibela (to stand and die for) oleh setiap penstudi HI. Setidaknya hal itulah yang saya sadari. Serta terbuka untuk dikomentari.

Written by Raksa Ibrahim

November 4, 2007 pada 1:21 am

Ditulis dalam Uncategorized

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. keren judulnya..lam knl y

    arra II

    September 5, 2008 at 10:44 pm

  2. salam kenal juga.

    nuibra

    September 7, 2008 at 6:47 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: