IBRAHIMSCRIPT

Raksa Ibrahim-write to protect the unwritten

Budaya Dusta

with 2 comments


Dalam hidup sering kali kita dihadapkan pada pilihan antara mengatakan kejujuran dengan kebohongan/kedustaan. Muncul perasaan puas dan tidak enak ketika memilih diantaranya. Namun, kedustaan terasa lebih manis dan sering dilakukan. Kedustaan terpaksa dilakukan karena didorong oleh berbagai hal.

Sebagai ilustrasi, suatu ketika saya telat bangun untuk menghadiri rapat di Jatinangor, lalu seorang teman menelepon, ”woy dimana lo, rapat di kosan A udah ditunggu!!!”// saya menjawab, ”iya nih lagi di depan Caringin, macet”// padahal saya masih di kamar dan Caringin kayanya gak macet. Belum puas menelepon, Ia lalu me’sms saya, “sa buruan kita udah mulai giliran lo bentar lagi.” Akhirnya saya tiba di tempat rapat setelah satu jam terlambat. Ternyata rapat pun baru dimulai karena teman-teman yang lain juga baru datang (selain saya yang lain juga banyak yang belum hadir). Jadi telah terjadi kedustaan dua arah.

Saya dipaksa berdusta karena tidak enak hati sudah telat dan situasi memaksa untuk melakukanya. Teman saya melakukan counter kedustaan karena kedukannya, situasi, dan kecerdasannya. Pertama ia merupakan petinggi dalam organisasi, kedua belum hadirnya peserta rapat, dan ketiga ia secara cerdas memberikan efek tidak enak terhadap anggotanya. Ketiga faktor tersebut mendorongnya melakukan kedustaan kecil.

Kedustaan terjadi di berbagai level masyarakat, bahkan bila dia adalah penguasa. Ketika kampanye Ia menjanjikan daerahnya diperuntukan bagi siapa saja. Setelah terpilih ia malah mengeluarkan undang-undang yang melarang keberadaan orang miskin, dusta lagi deh. Penguasa memang cenderung melakukan banyak kebohongan. Hal ini dilakukan untuk mempertahankan popularitas dan kekuasaannya. Berbagai kedustaan di negara ini tampaknya telah menjadi pilar-pilar pembagunan karakter bangsa. Sebagaimana yang diungkapkan Alexander Solzhenitsyn, ”in our country the lie has become not just a moral category but a pillar of the state

Kedustaan yang dilakukan oleh negara (penguasa) tampaknya sudah sering terjadi. Istilah yang mengikutinya pun beragam. John Perkins menyebutnya corporatocracy, konspirasi antara pengusaha, penguasa, dan lembaga keuangan. Kolaborasi kebohongan dari ketiganya menghasilkan kebobrokan sektor ekonomi di negara-negara dunia ketiga. Sedangakan Susan Strange dalam Casino Capitalism menyebutnya structural capitalism, yang intinya mengatakan arus keuangan dan kekayaan dunia berputar di tempat yang sama layaknya sebuah kasino. Disinyalir kemiskinan yang terjadi saat ini disebabkan oleh berbagai strategi dusta yang dilakukan oleh mereka yang mendukung status-quo tatanan dunia baru pasca Perang Dunia II.

Terlepas dari itu semua, kedustaan telah tertanam dalama diri dan benak masyarakat baik secara tidak sadar maupun secara sadar. Menjadikannya sebagai suatu kebiasaan yang membentuk budaya. Merugikan atau menguntungkan diri sendiri atau orang lain tidak menjadi masalah. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Anatole France dalam La Vie en Fleur, ”without lies humanity would perish of despair and boredom.” Kedustaan merupakan kenyataan yang telah mengisi kehidupan manusia.

Terakhir, pertanyaanya sekarang adalah perlukah kita berdusta? Apakah untuk menjadi sejahtera kita harus berdusta? Apakah bila tidak pandai berdusta tidak akan kaya? Haruskah kita mendustai orang lain? Berapa banyak lagi kedustaan yang harus menemani kehidupan kita? Inilah beberapa jawaban dari, Albert Camus: one sometimes sees more clearly in the man who lies than in the man who tells the truth// Truth, like the light, blinds// Lying on the other hand, is a beautiful twighlight// which gives to each object its value; coba lihat apa kata Titi Kamal yang ’megang banget’: ”lie lie lie panggil aku si jablie…” Sudahkah anda berdusta hari ini?

Written by Raksa Ibrahim

November 4, 2007 pada 1:23 am

Ditulis dalam Uncategorized

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. raksa
    baru pertama saya masuk ke blog raksa.bagus ya, produktif. saya suka tulisan ini. ini juga dimuat di gulungan kertas berpita (bener ga namanya?) ya? wah, saya baru tau dari blognya uja. ntar kapan2 saya kunjungi lagi. saya tunggu tulisan2nya.

    Budi

    Desember 5, 2007 at 10:44 am

  2. Makasih budi atas komentarnya. Saya baru nge-post lagi sekarang. cheers.

    nuibra

    Desember 26, 2007 at 9:16 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: