IBRAHIMSCRIPT

Raksa Ibrahim-write to protect the unwritten

writingcide

leave a comment »


Bagi kebanyakan orang ujian hanyalah suatu ritual biasa, yang dilakukan untuk memperoleh nilai. Malam sebelum ujian seluruh materi satu semester dihapalkan, hapal gak hapal yang penting baca. Esok harinya tinggal memberikan “karangan indah” yang dipadu-padankan dengan konsep, teori, dan fenomena yang kita ketahui. Siapa tahu hoki dapat bagus, ahoii.

Bagi sebagian kecil orang, UAS merupakan suatu hal yang membuat ketar-ketir. Terutama bagi mereka yang mampu membuat kode rahasia dengan tingkat kerahasiaan sangat tinggi alias tulisan ceker ayam. Kebanyakan dari mereka sangat cerdas namun nilai-nilainya selalu di bawah B. Kesialan itu lebih disebabkan karena jawaban ujian mereka yang tidak bisa dibaca. Sehingga, kemungkinan besar jawaban ujian mereka langsung menuju tempat sampah. Inilah, yang menurut teman saya disebut dengan writingcide.

Aja gilee!!! Writingcide, konsep apa lagi tuh? Jangan-jangan ada kaitannya dengan pemikiran Michael Foucault, tentang power knowledge. Genocide, politicide, gendercide, democide, kita pasti sudah pernah mendengarnya. Writingcide berasal dari kata to write yang artinya menulis/tulisan dan cides yang berasal dari kata latin yang berarti pemusnahan/ pembantaian. Jadi, writingcide adalah pemusnahan tulisan secara keseluruhan karena alergi terhadap pemikiran atau cara dan gaya menulis seseorang. Termasuk tulisan tangan.

Terdengar sangat konyol karena terlihat hanya seperti pembenaran dan pembelaan atas perolehan nilai yang jelek. Namun, sesungguhnya hal ini sering terjadi dalam bentuk sensor, boikot, dan intimidasi. Misal tulisan-tulisan pemikiran marxist yang terlarang di jaman orde baru. Lalu, tulisan-tulisan Soe Hok Gie yang kritis sering dibakar bila terlanjur dipublikasikan. Tapi, apa yang terjadi jika tulisan itu merupakan jawaban ujian yang secara pemikiran dapat menunjukan pengetahuan yang dimiliki dan benar, namun sulit dibaca.

Saya teringat ketika membantu bapak saya menilai ujian mahasiswanya. Biasanya bila tulisan tangannya jelek langsung dicoret dan dikasih nilai ongkos menulis (45-60). Dia bilang, “tulisannya aja jelek, niat gak dia sekolah” Alamak, anaknya juga tulisannya jelek. Seorang teman yang selalu mendapat nilai bagus dengan angkuh mengatakan, “kelihatan orang yang cerdas melalui tulisan tangan dan pilihan katanya.” Sedangkan menurut teman saya dari Psikologi UNPAD guratan dan ukuran huruf dalam tulisan tangan menunjukan emosi seseorang.

Dalam perjalanan pulang ke Jatinangor saya mendiskusikanya dengan teman yang lain. Untuk masalah ini dia tidak setuju (kebetulan tulisan tangan dan nilainyanya jelek terus). Menurutnya, hal tersebut sangatlah tidak adil. Menghancurkan, sisi kreatif seseorang, “lagian durasi ujian juga sering gak singkron dengan jumlah pertanyaan, kan bikin tangan gemetaran 1,5 jam untuk 5-6 soal analisis.” Dia menambahkan, “itu terjadi karena tulisan tangan gue belum dikenal dengan baik, semisal Times New Roman.” Saya nyeletuk, “ya udah masukin aja bentuk font tulisan tangan lu ke Ms Word, namanya kancrut ayam.”

Hidup haruslah selalu dinamis. Sehingga perubahan-perubahan terutama ke arah yang lebih baik tidak boleh dihindari. Terutama, bila hal tersebut menyangkut pada fungsi sosial masyarakat yaitu berkomunikasi. Semenjak munculnya komputer dan internet writingcide dapat dihindari. Terlihat dengan makin banyak orang yang memanfaatkan blog dan website. Sehingga kehadiranya harus dimanfaatkan dengan maksimal.

Written by Raksa Ibrahim

Oktober 15, 2007 pada 12:58 am

Ditulis dalam Uncategorized

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: