Arsip untuk Juni 2011
RADIO ASING MERETAS BATAS MENEBAR KABAR
Oleh Raksa Ibrahim
Manusia memerlukan informasi untuk mengetahui peristiwa-peristiwa terkini dan mengantisipasi berbagai perubahan jaman. Saat ini, manusia dihadapkan dengan begitu banyak informasi. Sementara, kesibukan sering menghambat upaya mengolah dan menimbang kredibilitas informasi untuk konsumsi sehari-hari. Hambatan ini sedikit teratasi dengan penyajian informasi dalam bentuk berita yang padat, singkat dan interaktif oleh radio.
Tulisan ini bertujuan untuk menggambarkan arti siaran berita radio asing bagi saya. Saya akan menggambarkannya secara singkat melalui dua aspek yaitu kebutuhan manusia dan peran strategis radio asing (NHK, BBC, DW, RNW, dll) dalam interaksi lintas batas.
Siaran radio hadir sebagai media penyedia informasi dalam bentuk berita bagi masyarakat. Kehadirannya merupakan jawaban terhadap kebutuhan dan permintaan masyarakat atas sebuah media yang menyajikan berita. Berita yang memenuhi dahaga informasi sekaligus menghibur dan mendidik pendengarnya. Radio adalah media pertama yang melakukannya dalam sejarah modern manusia.
Siaran radio-radio asing merupakan salah satu media penyedia layanan berita yang menjawab kebutuhan dan permintaan masyarakat. Jangkauan program siaran relay radio asing ke seluruh dunia terutama ke pelosok-pelosok nusantara adalah wujud layananya bagi masyarakat Indonesia. Kehadiran siaran radio asing di Indonesia juga merupakan wujud keinginan masyarakat akan sebuah media yang dapat mencerahkan di tengah berjubelnya media yang kehilangan nilai sejatinya.
Selanjutnya, radio memiliki peran strategis untuk memperat hubungan antar individu dalam suatu komunitas di satu negara dengan negara lainnya. Radio merupakan media pertama yang menjalin kedekatan dengan penggunanya. Radio juga mempersempit jarak dengan pendengarnya serta berinteraksi secara aktual. Siaran radio asing telah membawa berita, hiburan dan kehangatan ke tengah-tengah masyarakat.
Radio asing memiliki peran strategis untuk menghubungkan keadaan masyarakat di negara asal kepada pendengarnya di Indonesia dan sebaliknya (vice versa). Keterhubungan antar masyarakat dari negara yang berbeda dapat menciptakan saling pengertian. Saling pengertian yang dapat memunculkan penghormatan dan solidaritas antar bangsa.
Kemampuan dari siaran radio asing juga merupakan keberhasilan tersendiri dalam menciptakan proses komunikasi antar budaya yang seimbang. Proses komunikasi yang seimbang merupakan modal berharga menuju kerjasama komprehensif di masa depan.
Siaran radio asing di Indonesia memiliki arti sebagai sebuah media informasi dan komunikasi yang lintas batas. Siaran radio asing sekaligus memberikan alternatif bagi masyarakat untuk memperoleh informasi yang aktual, padat dan kredibel. Radio ini juga memberikan layanan pendidikan dan hiburan yang berimbang serta beretika.
Sebagi gambaran, saya tidak akan pernah tahu lagu Bengawan Solo versi bahasa Jepang yang dinyanyikan Harumi Miyako sebelum mendengarkan Radio NHK. Di saat yang sama saya dapat mengetahui perawat asal Indonesia mendapatkan apresiasi dan respon positif dari pasien-pasien rumah sakit di Jepang. Dari sudut pandang saya, hal-hal ini merupakan sebagian gambaran kecil dari makna kehadiran siaran radio asing di Indonesia.
Kehadiran siaran internasional radio asing telah mendapatkan tempat di hati para pendengarnya di berbagai negara. Selama mengudara bertahun-tahun, siaran radio asing tetap bertahan dan menyampaikan berbagai peristiwa yang terjadi di dunia. Siaran radio asing selama mengudara tanpa disadari telah meretas berbagai batasan-batasan seperti jarak, bahasa dan budaya dalam menyampaikan berita kepada pendengar setianya. Singkat kata, siaran radio asing telah meretas batas-menebar kabar.
FOTOGRAFER PAK DUBES
Banyak orang beranggapan bahwa tugas seorang diplomat adalah berunding, berkencan dengan perempuan-perempuan cantik dan menghisap cerutu. Asik benar!
Coba tebak, apa tugas pertama saya sebagai diplomat di Kota M? Apakah saya mengikuti perundingan? Ya kegiatan pertama saya di Manila adalah mengikuti jalannya perundingan antara GRP-MNLF. Tapi apa tugas pertama saya?
Tugas pertama saya adalah menjadi juru foto pribadi Bapak Dubes dalam pertemuan itu. Pak Dubes meminta saya untuk mengabadikan kepemimpinannya dalam pertemuan itu dengan kamera di BlackBerry-nya. Biasa aja.
Di hari terakhir pertemuan, tiba2x melalui seorang senior saya dipanggil oleh Pak Wakil Dubes (DCM) untuk segera hadir ke ruang pertemuan. Bergegaslah saya untuk menghadap Pak DCM. Sesampainya saya di ruang rapat, Pak DCM memberitahukan bahwa Pak Dubes ingin dibantu untuk mengabadikan penutupan pertemuan GRP-MNLF yang juga dihadiri oleh pentolan MNLF, Nur Misuari.
Dengan menggunakan kamera di BlackBerry Pak Dubes, saya sigap mengabadikan keikutsertaan pimpinan dalam pertemuan ini.
Diminta pimpinan untuk memotret adalah hal biasa tapi dua kali berturut-turut perlu untuk kembali dipikirkan. Kemungkinan pertama, ini memang tugas bagi pemula. Kedua, setelah melihat kembali hasil jepretan saya, terlihatlah bahwa dalam foto tersebut Pak Dubes terlihat semakin luar biasa keren dan tampan.
Saya suka kemungkinan yang kedua karena sepertinya, saya memiliki kemampuan untuk menjadikan subjek foto yang tampan menjadi semakin tampan dan yang kurang tampan menjadi lumayan tampan.
***
Satu hal, saya tidak merasa nista atau tidak berguna karena diminta memotret. Alhamdulilah, masih dipercaya untuk memotret.
Saya percaya untuk menjadi besar harus dapat dipercaya melakukan hal kecil. Sebagaimana yang dialami Hideyoshi Toyotomi sebelum menjadi penguasa yang menyatukan Jepang adalah seorang pembawa sandal untuk Panglima Perang.


![Vang Vieng Laos in Early Morning Light [Explore #2, THANK YOU] Vang Vieng Laos in Early Morning Light [Explore #2, THANK YOU]](http://static.flickr.com/7081/7243785822_e3f22708c6_t.jpg)
