RADIO ASING MERETAS BATAS MENEBAR KABAR
Oleh Raksa Ibrahim
Manusia memerlukan informasi untuk mengetahui peristiwa-peristiwa terkini dan mengantisipasi berbagai perubahan jaman. Saat ini, manusia dihadapkan dengan begitu banyak informasi. Sementara, kesibukan sering menghambat upaya mengolah dan menimbang kredibilitas informasi untuk konsumsi sehari-hari. Hambatan ini sedikit teratasi dengan penyajian informasi dalam bentuk berita yang padat, singkat dan interaktif oleh radio.
Tulisan ini bertujuan untuk menggambarkan arti siaran berita radio asing bagi saya. Saya akan menggambarkannya secara singkat melalui dua aspek yaitu kebutuhan manusia dan peran strategis radio asing (NHK, BBC, DW, RNW, dll) dalam interaksi lintas batas.
Siaran radio hadir sebagai media penyedia informasi dalam bentuk berita bagi masyarakat. Kehadirannya merupakan jawaban terhadap kebutuhan dan permintaan masyarakat atas sebuah media yang menyajikan berita. Berita yang memenuhi dahaga informasi sekaligus menghibur dan mendidik pendengarnya. Radio adalah media pertama yang melakukannya dalam sejarah modern manusia.
Siaran radio-radio asing merupakan salah satu media penyedia layanan berita yang menjawab kebutuhan dan permintaan masyarakat. Jangkauan program siaran relay radio asing ke seluruh dunia terutama ke pelosok-pelosok nusantara adalah wujud layananya bagi masyarakat Indonesia. Kehadiran siaran radio asing di Indonesia juga merupakan wujud keinginan masyarakat akan sebuah media yang dapat mencerahkan di tengah berjubelnya media yang kehilangan nilai sejatinya.
Selanjutnya, radio memiliki peran strategis untuk memperat hubungan antar individu dalam suatu komunitas di satu negara dengan negara lainnya. Radio merupakan media pertama yang menjalin kedekatan dengan penggunanya. Radio juga mempersempit jarak dengan pendengarnya serta berinteraksi secara aktual. Siaran radio asing telah membawa berita, hiburan dan kehangatan ke tengah-tengah masyarakat.
Radio asing memiliki peran strategis untuk menghubungkan keadaan masyarakat di negara asal kepada pendengarnya di Indonesia dan sebaliknya (vice versa). Keterhubungan antar masyarakat dari negara yang berbeda dapat menciptakan saling pengertian. Saling pengertian yang dapat memunculkan penghormatan dan solidaritas antar bangsa.
Kemampuan dari siaran radio asing juga merupakan keberhasilan tersendiri dalam menciptakan proses komunikasi antar budaya yang seimbang. Proses komunikasi yang seimbang merupakan modal berharga menuju kerjasama komprehensif di masa depan.
Siaran radio asing di Indonesia memiliki arti sebagai sebuah media informasi dan komunikasi yang lintas batas. Siaran radio asing sekaligus memberikan alternatif bagi masyarakat untuk memperoleh informasi yang aktual, padat dan kredibel. Radio ini juga memberikan layanan pendidikan dan hiburan yang berimbang serta beretika.
Sebagi gambaran, saya tidak akan pernah tahu lagu Bengawan Solo versi bahasa Jepang yang dinyanyikan Harumi Miyako sebelum mendengarkan Radio NHK. Di saat yang sama saya dapat mengetahui perawat asal Indonesia mendapatkan apresiasi dan respon positif dari pasien-pasien rumah sakit di Jepang. Dari sudut pandang saya, hal-hal ini merupakan sebagian gambaran kecil dari makna kehadiran siaran radio asing di Indonesia.
Kehadiran siaran internasional radio asing telah mendapatkan tempat di hati para pendengarnya di berbagai negara. Selama mengudara bertahun-tahun, siaran radio asing tetap bertahan dan menyampaikan berbagai peristiwa yang terjadi di dunia. Siaran radio asing selama mengudara tanpa disadari telah meretas berbagai batasan-batasan seperti jarak, bahasa dan budaya dalam menyampaikan berita kepada pendengar setianya. Singkat kata, siaran radio asing telah meretas batas-menebar kabar.
FOTOGRAFER PAK DUBES
Banyak orang beranggapan bahwa tugas seorang diplomat adalah berunding, berkencan dengan perempuan-perempuan cantik dan menghisap cerutu. Asik benar!
Coba tebak, apa tugas pertama saya sebagai diplomat di Kota M? Apakah saya mengikuti perundingan? Ya kegiatan pertama saya di Manila adalah mengikuti jalannya perundingan antara GRP-MNLF. Tapi apa tugas pertama saya?
Tugas pertama saya adalah menjadi juru foto pribadi Bapak Dubes dalam pertemuan itu. Pak Dubes meminta saya untuk mengabadikan kepemimpinannya dalam pertemuan itu dengan kamera di BlackBerry-nya. Biasa aja.
Di hari terakhir pertemuan, tiba2x melalui seorang senior saya dipanggil oleh Pak Wakil Dubes (DCM) untuk segera hadir ke ruang pertemuan. Bergegaslah saya untuk menghadap Pak DCM. Sesampainya saya di ruang rapat, Pak DCM memberitahukan bahwa Pak Dubes ingin dibantu untuk mengabadikan penutupan pertemuan GRP-MNLF yang juga dihadiri oleh pentolan MNLF, Nur Misuari.
Dengan menggunakan kamera di BlackBerry Pak Dubes, saya sigap mengabadikan keikutsertaan pimpinan dalam pertemuan ini.
Diminta pimpinan untuk memotret adalah hal biasa tapi dua kali berturut-turut perlu untuk kembali dipikirkan. Kemungkinan pertama, ini memang tugas bagi pemula. Kedua, setelah melihat kembali hasil jepretan saya, terlihatlah bahwa dalam foto tersebut Pak Dubes terlihat semakin luar biasa keren dan tampan.
Saya suka kemungkinan yang kedua karena sepertinya, saya memiliki kemampuan untuk menjadikan subjek foto yang tampan menjadi semakin tampan dan yang kurang tampan menjadi lumayan tampan.
***
Satu hal, saya tidak merasa nista atau tidak berguna karena diminta memotret. Alhamdulilah, masih dipercaya untuk memotret.
Saya percaya untuk menjadi besar harus dapat dipercaya melakukan hal kecil. Sebagaimana yang dialami Hideyoshi Toyotomi sebelum menjadi penguasa yang menyatukan Jepang adalah seorang pembawa sandal untuk Panglima Perang.
PIPIS SEMBARANGAN
Kencing atau pipis alias buang air kecil adalah bagian dari kebutuhan umum manusia. Pipis juga bertujuan untuk mengeluarkan zat tidak berguna dari tubuh dan memberikan kita kenikmatan seksual. Sayangnya, kebanyakan orang Indonesia terutama di kota besar tidak menyalurkan pipisnya di tempat yang sesuai. Fenomena pipis sembarangan telah berlangsung lama dan menjadi permasalahan di kota-kota besar.
Masyarakat (kita) terdesak untuk pipis di balik pohon, tembok, rerumputan dan di belakang pintu mobil yang dibuka. Siapa dari kita yang belum pernah pipis sembarangan? Tentara, polisi, sopir, tukang sayur, pedagang kali lima, dosen, pelajar, selebritis, diplomat (mungkin), jaksa, hakim, koruptor, wartawan, dll. Hampir semua orang dengan berbagai profesi pernah pipis sembarangan.
Lalu, apa gerangan yang mendorong kita pipis sembarangan? Bisa jadi, kita salah mengira bahwa siraman sembarang pipis kita dapat mendinginkan bumi yang semakin panas. Mungkinkah pipis sembarangan tanpa disadari merupakan ajang pamer maskulinitas lelaki untuk menandakan ‘kekuasaannya.’ Atau pipis sembarangan adalah upaya untuk membangkitkan kembali wewangian pesing primitif di tengah masyarakat.
Berdasarkan pengamatan sepintas terdapat tiga hal yang membuat pipis sembarangan terjadi. Pertama, kurang tersedianya sarana toilet yang layak bagi masyarakat. Pernahkah kita kelabakan ketika kebelet dan menyadari tidak ada toilet yang tersedia untuk menyalurkan hasrat tersebut.
Kedua, bergesernya fungsi toiltet sebagai fasilitas publik menjadi lahan komersial. Coba lihat di toilet umum sekitar kita tulisan: kencing Rp. 1000; berak Rp. 2000, like this lah. Ketiga, kurangnya kesadaran masyarakat untuk hidup bersih mulai dari pipis pada tempatnya hingga menjaga kebersihan toilet umum menjadi faktor pendorong merebaknya fenomena pipis sembarangan.
Pipis merupakan masalah kecil namun cenderung menjadi besar karena merupakan hajat alamiah dari dan dilakukan banyak orang. Terlebih bila pipis dilaksanakan di sembarang tempat. Permasalahan kecil ini bila terus dibiarkan terjadi dapat semakin mengganggu. Karena, pipis sembarangan tidak hanya dapat menimbulkan penyakit tetapi juga bau yang ditimbulkan mengganggu kenyamanan hidup kita.
Oleh sebab itu Permerintah selayaknya memberikan perhatian khusus terhadap masalah ini. Salah satunya dengan memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang teknologi pengelolaan kotoran di tiap kecamatan. Dengan ini masyarakat dapat secara mandiri menyediakan dan merawat fasilitas umum bagi mereka dan masyarakat lain. Bila upaya ini dilakukan secara luas berarti besar bagi upaya pelestarian lingkungan dan pengentasan kemiskisan sebagaimana tertera dalam tujuan pembangunan millennium (MDGs).
Hal sederhana yang harus kita ingat adalah kebersihan adalah sebagian dari iman. Tingkatan awal dari iman adalah kepedulian dan kesadaran sebagai bagian dari masyarakat. Masyarakat yang berkomitmen menjaga kebersihan demi kenyamanan bersama.
Indonesia dalam Balance of Power
Pendahuluan
Perubahan-perubahan yang terjadi di dalam kebijakan luar negeri (foreign policy) Indonesia tidak terlepas dari kondisi domestik dan luar negeri. Di dalam negeri perubahan ditandai dengan adanya demokratisasi, reformasi keamanan, otonomi daerah dan penegakkan HAM. Sementara, pergeseran perimbangan kekuatan dari bipolar menjadi multipolar, menguatnya saling ketergantungan (interdependency), munculnya aktor non-negara dan hadirnya isu-isu baru merupakan perubahan yang terjadi dalam sistem internasional.
Dari berbagai perubahan yang terjadi, pergeseran perimbangan kekuatan dari bipolar menjadi multipolar adalah pendorong bagi munculnya perubahan-perubahan lain dalam hubungan internasional.
Berakhirnya Perang Dunia II menandai perimbangan bipolar dalam politik dunia dengan munculnya Amerika Serikat dan Uni Soviet. Perimbangan kekuatan dalam bentuk bipolar memunculkan persaingan tajam antara dua negara adidaya yang dikenal dengan masa Perang Dingin. Perang Dingin berakhir dengan runtuhnya Uni Soviet serta munculnya Amerika Serikat sebagai kekuatan utama. Superioritas A.S setelah Perang Dingin dapat dikatakan sebagai bentuk Unipolar dalam politik dunia.
Selanjutnya, perkembangan-perkembangan yang terjadi kembali menggeser perimbangan kekuatan dalam politik dunia. Pergeseran perimbangan kekuatan ditandai dengan munculnya negara-negara middle power dan major power di level kawasan. Pergeseran kekuatan yang terjadi sering dikatakan sebagai multipolar dengan keberadaan lebih dari dua kekuatan utama serta kemungkinan berubahnya negara middle power menjadi great power.
Pertanyaan utama
Seiring dengan pergeseran balance of power dalam konstelasi politik dunia yang senantiasa berubah, apa bentuk perimbangan kekuatan yang menguntungkan Indonesia?
Balance of power
Balance of power adalah bentuk perimbangan kekuatan dalam politik dunia yang dilihat dari jumlah negara-negara pemegang kekuatan utama yang menjaga dan mempertahankan stabilitas dalam sistem internasional. Stabilitas dalam politik dunia diangap perlu demi terciptanya tatanan yang dapat menghindari terjadinya perang. Mekanisme balance of power diharapkan dapat menghindari perang berskala besar. Stabilitas di dalam balance of power dapat diartikan sebagai ketidakadaan perang dalam sistem.
Melalui balance of power keinginan suatu negara utama (great power) untuk menggunakan kekuatannya secara aktif ke luar dapat diredam atau mempertimbangkan keberadan great power yang lain. Selain itu bila terdapat suatu negara yang meningkatkan kekuatannya dan mengancam stabilitas balance of power maka great power atau middle power dalam sistem akan bergabung untuk mencegah itu terjadi.
Siklus balance of power
Bipolar dalam politik dunia yang ditandai dengan keberadaan dua great power merupakan perimbangan yang memberikan stabilitas sistem internasional dalam durasi cukup lama. Hal ini bila menandakan bipolar terjadi tahun 1945 setelah berakhirnya Perang Dunia dan berakhir seiring dengan runtuhnya Uni Soviet tahun 1990. Perlu untuk diingat meskipun dalam kurun waktu tersebut tidak terjadi perang besar namun terdapat perang-perang kecil yang disponsori dan melibatkan dua kekuatan besar ketika itu.
Selanjutnya, unipolar dengan munculnya A.S sebagai kekuatan tunggal setelah Perang dingin dapat dikatakan merupakan masa transisi menuju pergeseran balance of power munuju multipolar. Superioritas dari A.S dalam menjaga balance of power dalam bentuk unipolar tidak dapat bertahan lama. Hal ini disebabkan munculnya ancaman keamanan kontemporer dan kehadiran major power di kawasan yang tidak sepaham dengan A.S. Keadaan ini mendorong kembali terjadinya pergeseran balance of power menjadi multipolar.
Oleh sebagian penstudi hubungan internasional balance of power dalam bentuk multipolar disinyalir sebagai perimbangan yang ideal dalam politik dunia. Ideal dalam artian tidak adanya negara dengan kekuatan yang terlalu dominan dalam sistem sehingga stabilitas sistem terjaga lebih langgeng. Keberadaan lebih dari dua great power akan mengahadirkan kesempatan bagi negara untuk bekerjasama membentuk tatanan perimbangan kekuatan yang lebih inklusif.
Pendapat lain mengatakan di dalam sejarah, multipolar dalam sistem internasional merupakan benih terjadinya perang dalam skala besar. Perang Dunia I terjadi disebabkan bentuk multipolar dalam bentuk Concert of Europe yang tidak dapat lagi menyokong stabilitas perimbangan kekuatan. Ketidakmampuan bentuk multipolar dalam menjaga stabilitas sistem disebabkan banyaknya negara dalam balance of power dengan kekuatan yang setara. Bila terdapat lebih dari dua negara dengan kekuatan yang setara maka perimbangan akan runtuh disebabkan hilangnya kekuatan penyeimbang dalam sistem.
Indonesia dalam Balance of Power
Politik luar negeri bebas aktif menempatkan Indonesia dalam posisi yang unik dalam perimbangan kekuatan di tingkat sub-regional secara khusus dan global secara umum. Keunikan Indonesia terletak pada haluan Indonesia yang berusaha menempatkan diri secara proporsional dalam setiap polar yang ada. Indonesia berusaha keras untuk mendapatkan keuntungan dari polaritas yang ada dengan menempatkan dua kakinya dalam kutub yang berbeda. Di saat yang sama, Indonesia juga berusaha menjadi peredam sengketa dan konflik antara great power di dunia.
Sejarah diplomasi Indonesia mencatat peranan strategisnya dalam meredam meruncingnya perimbangan kekuatan ke arah konflik. Salah satu upaya yang dilakukan Indonesia adalah melalui Gerakan Non Blok (GNB). GNB yang diinisiasi Indonesia bersama empat negara yang lain mengutarakan perlunya kubu alternatif dalam perimbangan kekuatan dengan tidak memihak ke dalam salah satu polar.
Lebih lanjut, ditinjau dari aspek geostrategis, Indonesia adalah emerging middle power dengan lokasi geografis yang sangat strategis. Dua hal penting ini menjadi landasan bagi Indonesia untuk menentukan posisinya dalam perimbangan kekuatan. Secara geografis Indonesia berada dalam posisi strategis yang mengundang negara-negara great power untuk mendapatkan dukungan Indonesia. Hal ini juga menjadikan Indonesia sebagai tempat great power memainkan pengaruhnya dalam perimbangan kekuatan.
Seiring dengan terus berubahnya perimbangan kekuatan secara global disertai politik luar negeri bebas aktif menempatkan Indonesia di tengah-tengah great power dalam perimbangan kekuatan. Indonesia akan sulit bersaing dalam perimbangan kekuatan secara global. Namun, Indonesia dapat berperan sebagai penghubung antar major power di kawasan dan menjadi pemain utama di level sub regional.
Sebagai sebuah siklus balance of power dalam banyak hal tidak akan menguntungkan Indonesia. Hal ini dikarenakan upaya menjalin interaksi hubungan internasional dari aspek power akan mengecilkan posisi Indonesia. Pemain utama dalam balance of power adalah negara-negara great power. Keadaan ini menempatkan Indonesia dalam posisi yang dilematis. Terlebih Indonesia dengan lokasi geografis yang strategis telah menjadi arena bagi great power mengartikulasikan power-nya.
Penutup
Dalam merespon perimbangan kekuatan secara global dan regional Indonesia terus melakukan adaptasi dalam mengantisipasi perubahan perimbangan kekuatan. Indonesia secara kreatif dan aktif secara perlahan memberikan alternatif untuk menggeser cara pandang dalam melakasanakan hubungan internasional hanya melalui power. Indonesia dengan tegas menginisiasikan pentingnya aturan dan norma untuk mengarahkan perimbangan kekuatan agar tetap mengedepankan kehormatan bagi seluruh manusia.
PAKAIAN, TANDA DAN ETIKA BISNIS
Pakaian adalah bagian dari kehidupan manusia. Busana turut memberikan sentuhan mutakhir dalam keseharian masyarakat di seluruh dunia. Puluhan kali pameran busana diselenggarakan, jutaan pakaiaan diproduksi dan miliaran dollar dihabiskan untuk belanja pakaian. Namun, pernahkah kita memikirkan bagaimana perjalanan dan ekspresi suatu pakaian hingga dapat melekat di tubuh kita?
Tulisan ini adalah review terhadap artikel berjudul “Penggunaan Mode dalam Memerangi Buruh Anak” yang ditulis oleh Paddy Maguire. Review dilakukan dengan melihat etika dalam berbisnis serta pakaian sebagai tanda. Suatu usaha untuk mendukung penghapusan eksploitasi anak dalam industri.
Pakaian adalah sebuah tanda yang berarti ia mengekspresikan berbagai hal. Ia dapat mengekspresikan status sosial, ideologi, eksploitasi, fanatisme dan kemunafikan. Pakaian secara bisu menyuarakan dan menunjukkan banyak hal di dalam kehidupan sosial.
Di dalam artikel yang di-review pakaian sebagai sebuah tanda ditempatkan di dalam tanda lain yaitu Toko Child Labour Free (CLF) di pinggiran ibu kota negara maju, Amsterdam. Tanda-tanda yang berhubungan ini menggeliatkan masalah sosial yaitu eksploitasi anak sebagai buruh.
Pakaian yang terdapat dan dijual di Toko CLF, Amstelveen menunjukkan status sosial dari calon pembeli di toko itu. Calon pembeli adalah mereka dengan uang yang berlimpah atau berstatus ekonomi kelas menengah ke atas. Ideologi dari pakaian di toko tersebut adalah kapitalisme.
Secara bersamaan, pakaian tersebut juga menunjukkan eksploitasi citra pekerja anak untuk mendapatkan untung dalam pemasaran. Pakaian di CLF alih-alih menyadarkan masyarakat sebaliknya, ia akan mendorong tren berbelanja berdasarkan iming-iming label bebas buruh anak. Pakaian akan kehilangan fungsi dan menghasilkan fanatisme semu dalam menentukan busana.
CLF dan pakaian yang pembuatannya tanpa melibatkan anak-anak dapat dilihat sebagai bentuk lain dalam pemasaran untuk mendapatkan untung. Keuntungan yang diperoleh dari pencitraan positif CLF. Pencitraan positif yang akan meningkatkan penjualan dan mendorong masyarakat berpenghasilan menengah ke atas untuk berbelanja pakaian di CLF.
Penghapusan buruh anak dalam produksi sebuah pakaian adalah tugas berat. Proses pembuatan satu pakaiaan melibatkan proses yang berliku. Untuk memastikan tidak adanya anak-anak yang terlibat dalam produksi pakaiaan berarti seseorang harus mengawasi proses pembuatannya dari awal. Mulai dari penanaman biji kapas, pemintalan benang, pemasangan detail hingga pengepakan pakaian.
Bagaimanapun, kehadiran CLF juga dapat dilihat secara positif. Selain bersikap kritis kita juga perlu untuk berpikir positif. Positif dalam artian CLF secara etika memikirkan konsekuensi dari cara mereka mensukseskan kepentingannya. Konseskuensi dari tindakan yang menyadari bahwa bisnis yang CLF lakukan akan mendukung kehidupan anak-anak di negara berkembang ke arah yang lebih baik.
CLF yang mengedepankan etika berbisnis yang baik patut diapresiasi. Dengan semakin ketatnya persaingan, masih ada toko yang memikirkan konsekuensi dari bisnis yang dilakukannya sangatlah mengagumkan. Etika dari CLF merupakan dukungan bagi kehidupan yang lebih baik.
Dengan melihat pakaian sebagai tanda dan etika berbisnis CLF memperlihatkan kerumitan masalah buruh anak. Masalah yang tidak akan selesai hanya dengan membuka toko pakaian bebas buruh anak. Etika bisnis yang baik memberikan konsekuensi harapan yang baik pula.
Oleh sebab itu, penggunaan mode/tren untuk memerangi buruh anak adalah keliru. Etika berbinislah yang dapat memberikan sedikit kebebasan bagi anak-anak untuk berkreasi dan tersenyum. Semoga akan tiba waktunya dimana anak-anak dapat berkreasi dan tersenyum tanpa penguasaan dan eksploitasi.
HIDUP ADALAH PENJELAJAHAN
“Dunia tidak sebesar daun kelor!”
Hidup bermula dari penjelajahan. Sejak lama, manusia bergairah untuk menjelajah. Manusia selalu penasaran dan takjub untuk mengetahui lingkungan di luar tempat tinggalnya. Penjelajahan telah membuka cakrawala tentang keberagaman hidup manusia. Terbuka dan bertambahnya cakrawala juga menjadi jembatan antar peradaban untuk saling memahami.
Kita dapat menggunakan kisah-kisah penjelajahan yang tercatat dan sahih sebagai referensi. Kisah-kisah tersebut merupakan pendorong bagi generasi selanjutnya untuk kembali melakukan penjelajahan. Dengan demikian seseorang dapat memulai dan memiliki penjelajahannya sendiri.
Terdapat tiga penjelajah yang catatan perjalanannya dapat dijadikan referensi. Mereka antara lain, Ibnu Battutah, Marco Polo dan Arnold J. Toynbee. Bagi Ibnu Battutah penjelajahan adalah ibadah di satu sisi dan pembelajaran di sisi lain. Marco Polo melihat penjelajahan sebagai kesempatan untuk memperluas jaringan perdagangan. Sementara Toynbee melakukan penjelajahan untuk melihat bangunan-bangunan ternama dari Timur dan Barat agar dapat memahami sejarah budaya bangsa-bangsa. Satu hal yang sama-sama dimiliki ketiganya adalah penghormatan atas keberanian dan pengetahuan yang disebar- luaskan.
Sebagai keturunan pelaut, bangsa Indonesia seakan terlahir untuk menjelajah. Fakta memperlihatkan bangsa Indonesia memiliki sejarah sebagai penjelajah ulung. Sebagai contoh, orang padang selalu terdorong untuk menyeberangi lautan dan membuka usaha di tempat yang dituju. Orang Jawa telah berlayar hingga mencapai Suriname. Bahkan Syekh Yusuf Al-Makasari pemuka agama asal Makasar berhasil berlabuh di Tanjung Harapan dan menyebarkan Islam di ujung selatan Afrika. Sayangnya, catatan perjalanan bangsa Indonesia di masa lalu tidak tersimpan baik.
Masalah klasik dalam memulai penjelajahan adalah dana. Penjelajahan membutuhkan dana yang cukup selain diperlukan juga mental, keberanian dan pengetahuan. Meski demikian, ketersediaan dana menjadi hal utama yang harus dipersiapkan untuk melakukan penjelajahan. Meski demikian masalah ketersedian dana adalah hal yang selalu dapat disiasati.
Bagi orang Indonesia menjelajah adalah panggilan hidup. Setidaknya bagi beberapa orang, mereka yang berkeinginan menjelajahi Mekah untuk berhaji dan berziarah ke Jerusalem. Beberapa ingin menjelajahi tempat-tempat belanja di luar negeri. Adapula mereka yang menjelajah sekaligus sekolah di luar negeri. Apapun alasan dan kemanapun tujuan seseorang, penjelajahan dapat menambah pengetahuan dan membuka pikiran dalam melihat berbagai hal.
Hal yang menarik berkaitan dengan penjelajahan ke luar negeri adalah munculnya empat tipe penjelajah Indonesia. Pertama, tipe penjelajah kaya raya yang memiliki sumber dana yang melimpah. Kedua tipe penjelajah cerdas yang memiliki kepintaran sehingga ia dapat memperoleh bantuan dana baik berupa beasiswa maupun hibah.
Ketiga, tipe penjelajah beruntung yang memiliki keberuntungan luar biasa. Penjelajah tipe ini dapat pergi menjelajah karena memenangi undian berhadiah, lomba menulis dan menggantikan orang yang berhalangan karena berbagai alasan. Keberuntungan tipe ini terletak dari kemampuannya menyadari peluang yang dapat membawanya menuju penjelahan terbaik sepanjang masa.
Tipe keempat adalah penjelajah nekad bin mental baja. Tipe ini memiliki keinginan kuat untuk menjelajah dan bersedia untuk melakukan apa saja untuk mewujudkan. Penjelajah tipe ini mengedepankan filosofi ‘hajar terus pantang mundur’. Keberanian dan kepercayaan tipe keempat sangatlah luar biasa.
Penjelajahan adalah awal dari kehidupan manusia serta diyakini juga sebagai awal baru setelah kematian manusia. Setiap manusia akan memiliki catatan perjalanan penjelajahannya masing-masing. Apapun tipe penjelajah seseorang menjelajah telah keharusan. Terakhir, hidup manusia ibarat air bila tertahan maka akan keruh dan rusak namun akan mengalir jernih bila bergerak. Hidup adalah penjelajahan.
KRITIK DAN PROPAGANDA DALAM KOMIK
Serangan teroris ke Amerika Serikat yang ditandai dengan runtuhnya World Trade Center di New York membuka lembaran baru konstelasi isu dalam politik dunia. Peristiwa itu juga turut mengubah pandangan masyarakat di A.S mengenai prioritas kebijakan luar negerinya. Sebagai respon, pemerintah A.S mulai mengadakan pencarian besar-besaran terhadap pelaku terorisme. Kebijakan ini terkenal dengan strategi pre-emptive strike yang merupakan bagian dari Global War on Terror-nya (GWOT) A.S, dengan target pertama Afghanistan.
Kebijakan penangkalan terorisme pemerintah A.S telah dinantikan oleh berbagai industri media masa dan masyarakat secara luas. Kebijakan yang satu ini pantas untuk mendapat porsi peliputan yang lebih. Hal ini dilakukan sebagai usaha media massa untuk kembali mengangkat moral dan kepercayaan diri rakyat untuk terus melanjutkan hidupnya. Upaya tersebut dilakukan dengan berbagai cara mulai dari konser musik, acara talk-show televisi, hingga aksi simpatik di kawasan ground zero.

Cover edisi terjemahan Indonesia. Diambi dari http://bukuygkubaca.blogspot.com/2007/09/911-kegagalan-amerika-melindungi.html
Ditengah berbagai upaya tersebut, industri komik di Amerika juga mulai mengubah pengemasan, pencitraan, dan penceritraanya. Kemunculan berbagai edisi khusus dalam komik superheroes yang berlatar belakang perang melawan terror, seperti “Batman against bin Laden.” Serta muncul pula komik-komik arus bawah yang mencoba menggambarkan peristiwa 9/11 secara objektif. Komik-komik ini berusaha untuk menjelaskan apa yang terjadi sebelum dan sesudah peristiwa 9/11.
Salah satu komik yang menunjukan usaha tersebut adalah “The 9/11 Report: A Graphic Adaptation” yang dibuat oleh Sid Jacobson dan Ernie Colon. Komikus handal yang malang melintang dalam industri komik A.S. Jacobson sendiri adalah pencipta tokoh komik Richie Rich.
Tulisan ini merupakan usaha untuk melihat komik sebagai suatu objek pembelajaran dalam memahani peran media masa dalam pembuatan kebijakan luar negeri (foreign policy) suatu negara. Disini komik dilihat sebagai suatu saluran dan alat untuk mengkritisi pemerintah dan menginformasikan kebijakan pemerintah mengenai suatu isu kepada khalayak.
Politik dalam komik
Komik telah mengalami berbagai perubahan dalam banyak hal. Secara etimologis komik berasal dari comical yang dapat diartikan sebagai lucu, lelucon, dan kelucuan. Komik seringkali identik dengan kekanak-kanakan, ketidak-seriusan dan hiburan sekilas lalu. Dengan tumbuhnya industri komik di A.S dan Jepang, komik mulai diterbitkan lebih menantang dari segi cerita, sistematis dalam penyampaian, dan menarik dalam pengemasan.
Secara historis komik dibuat bukan untuk menghibur. Pada awalnya komik merupakan bagian dari kritik dan satire terhadap otoritas perihal kehidupan masyarakat. Serta tidak jarang komik sangat politis, rasis, dan sexist. Secara perlahan komik semakin berisikan hal-hal yang politis serta bersifat mengolok-olok. Kecenderungan tersebut terus terjadi hingga saat ini bahkan sangat dinantikan kehadirannya.[1]
Adalah keliru untuk mengatakan bahwa komik merupakan sesuatu yang bersifat konyol dan tidak serius atau bahkan kekanak-kanakan. Strip komik telah hadir dalam kurun waktu yang lama di tengah-tengah masyarakat. Selain itu pula komik mulai dipelajari dan dilihat lebih dari sekedar seni cerita bergambar. Sehingga tak ayal memunculkan definisi baru mengenainya. Salah satunya dilakukan oleh Scott McCloud yang mendefnisikan komik sebagai gambar dan ide-ide lain yang terjuktaposisi dalam runutan maksud, yang bertujuan untuk memahami informasi dan-atau menciptakan respon yang apresiatif terhadap pembacanya.[2]

Ledakan di WTC pada peristiwa 9/11
Pembuatan komik sangat dipengaruhi oleh dua faktor yang berasal dari luar dan internal. Faktor internal mengacu pada idiosinkrasi komikus, latar belakang, tempat ia bekerja, serta riset dan desain penceritaan. Sedangkan faktor dari luar meliputi sistem politik, keadaan internasional, selera pasar, dan peta persaingan popularitas. Dalam pembuatannya tanpa disadari seringkali berifat ideologis.[3] Sebagaimana pendapat Arthur Asa Berger, bahwasanya segala bentuk ekspresi berkaitan erat dengan ideologi, politik, dan budaya pop.[4]
Hal ini menjadikan tema-tema dalam komik baik secara implisit maupun eksplisit bersifat politis serta mendukung salah satu pemikiran dan kritik terhadap suatu isu masa kini ataupun lampau. Hal ini semakin termanifestasi dengan kehadiran komik berkategori dewasa atau remaja yang bertema politik maupun yang bersifat politis. Dimana secara ekplisit berbentuk kritik, mendukung emansipasi dan ajakan untuk melawan kesewenangan.[5] Usaha tersebut direpresentasikan dan dicitrakan secara menarik dalam bentuk komik.
Kritik dan Propaganda
Komik 9/11 Report: A Graphic Adaptation merupakan komik yang dibuat berdasarkan laporan dari komisi 9/11. Sebuah komisi yang dibentuk untuk menyelidiki dan mencari fakta juga alasan-alasan mengapa serta bagaimana AS dapat diserang oleh kelompok teroris. Laporan dari komisi diharapkan dapat membantu berbagai pihak mengenai apa yang terjadi pada hari itu dan pada tahun-tahun sebelum terjadinya serangan. Laporan komisi ini mengahasilkan sebuah buku yang sangat tebal, berisi hasil temuan dan rekomendasi untuk mengantisipasi kembali terjadinya serangan teroris ke AS. Sayangnya, tidak semua masyarakat A.S membacanya disebabkan oleh berbagai hal.

Contoh penggambaran dalam komik yang sexist.
Hingga akhirnya Jacobson dan Colon berinisiatif untuk memvisualisasikan laporan komisi ke dalam komik dengan tutur bahasa yang lebih ringkas dan dapat dipahami. Hal ini dilakukan dengan harapan dapat semakin memudahkan masyarakat untuk membaca isi laporan komisi. Selain itu komik ini dapat lebih menjangkau berbagai lapisan bawah masyarakat terutama remaja, pekerja, dan komunitas komik itu sendiri. Komik juga sesuai bagi mereka yang termasuk ke dalam tipe pembelajar visual.
Meski komik ini merupakan adaptasi dari laporan komisi 9/11, secara garis besar komik ini memvisualisasikan kegamangan pemerintah A.S dalam mengatasi potensi ancaman serangan teroris. Melalui penggambaran dalam komik diperlihatkan berbagai kelemahan, ketidak-siapan, dan perbedaan pendapat dalam penanganan masalah teroris.
Lebih lanjut, komik ini berusaha menunjukan kegagalan A.S dalam melindungi warganya dari serangan teroris. Kegagalan yang menyebabkan A.S mengalami serangan terbesar untuk yang kedua kali di wilayahnya. Dimana kali ini sasarannya sangat signifikan dengan dampak yang besar serta dilakukan di masa damai dan bukan dilakukan oleh negara lain.
Kegagalan ini dikarenakan bibit persengketaan serta standar ganda yang diterapkan oleh pemerintah A.S dari masa ke masa. Terutama di kawasan Timur-Tengah setelah berakhirnya Perang Dunia II. Pada akhirnya A.S menuai sendiri bibit yang pernah mereka tanam. Salah satu contoh adalah Osama Bin Laden yang pada awalnya sekutu A.S ketika terjadi konflik di Afghanistan pada saat Perang Dingin. Kemudian berbalik melawan A.S disebabkan kekecewaannya terhadap sengketa Palestina-Israel. Kekecewaan ini kemudian dimanfaatkan untuk mendapatkan simpati dan dukungan dari orang islam di berbagai tempat.
Sementara itu, secara khusus kegagalan A.S dilihat melalui sedikitnya tiga hal. Pertama koordinasi yang lemah antar departemen dalam menghadapi kemungkinan terjadinya serangan. Setiap departemen/ instansi elit di A.S memiliki ego yang besar terutama dalam lembaga-lembaga intelijen yang ada di Departemen Pertahanan, CIA, FBI, dan NSA. Ego sektoral ini menyebabkan informasi yang terkait isu terorisme sering ditangani secara parsial berdasarkan wewenang dan tanggung jawab yang diberikan.
Kedua, keadaan diatas membuat para pembuat keputusan semakin kesulitan untuk mengatasi ancaman potensial dari kemungkinan serangan teroris ke A.S. Setelah beberapa kali terjadi penyerangan terhadap aset-aset milik A.S di luar negeri. Perdebatan yang sengit antar elit dalam menentukan kebijakan menyebabkan kebijakan yang dikeluarkan menjadi tidak maksimal.
Ketiga, kedua faktor diatas menunjukan dan menjadikan pemerintah A.S mengalami keterbatasan inisiatif dan kreativitas dalam mengatasi potensi ancaman serangan. Hal ini berdampak sangat buruk serta sukses memuculkan korban jiwa dan rasa takut di dalam kehidupan rakyat A.S. Dampak ini juga mempengaruhi situasi keamanan global secara keseluruhan.
Komik ini meski bermaksud untuk melakukan kritik terhadap pemerinta A.S, di saat yang bersamaan komik ini juga melakukan propaganda terhadap kebijakan A.S melawan teroris. Hal ini terjadi melalui penggambaran yang divisualisasikan secara eksplisit maupun implisit. Propaganda diartikan sebagai suatu kontrol, penggambaran dan manipulasi yang sengaja dilakukan dalam arus komunikasi dan informasi untuk mencapai tujuan politis tertentu.[6]
Secara eksplisit komik ini merepresentasi para pelaku teroris identik dengan janggut panjang, ras arab, misterius, berbahaya, dan fundamentalis. Hal ini memunculkan pandangan negatif terhadap muslim di seluruh dunia. Berdasarkan survey dari Media&Society Research Group Cornell University tahun 2004, menunjukkan persepsi warga A.S terhadap negara dan orang islam sangatlah buruk. Mayoritas warga A.S setuju bahwa umat dan negara islam adalah berbahaya, fanatik, dan kejam, serta terbelakang.
Sedangkan secara implisit komik ini berusaha mempengaruhi khalayak agar memberikan dukungan penuh kepada pemerintah untuk mengambil segala tindakan yang diperlukan untuk memberikan rasa aman bagi warganya. Pada awal lawatan invasi A.S di Afghanistan, mayoritas warga A.S sangat mendukung usaha pemerintahannya.Terlihat dari hasil survey yang dilakukan oleh lembaga yang sama menunjukan dukungan yang tinggi dalam kebijakan perang melawan terorisme. Sebagai informasi 42 persen warga A.S meyakini alasan perang melawan terorisme bertujuan untuk melindungi warga A.S dari serangan teroris di masa depan.
Penutup
Tanpa disadari komik sebagai suatu bentuk media massa telah menjadi alat politik yang berpengaruh. Di satu sisi komik merupakan otokritik terhadap keadaan dan kehidupan sosial masyarakat. Di sisi lain komik juga menjadi alat pendukung justifikasi implementasi kebijakan suatu negara. Hal ini tidak terlepas dari fungsi dan peran media massa ketika diproduksi lalu dipasarkan menjalankan suatu agenda setting. Lalu, hal ini akan membentuk opini publik melalui konstruk-konstruk realitas mengenai suatu isu. Terutama bila isu tersebut menjadi isu yang populer maka kepentingan dan power bermain di dalamnya.
Komik merupakan suatu media atraktif yang dapat digunakan untuk mempermudah pemahaman kita mengenai suatu isu global, terorrisme misalnya. Pemahaman akan memunculkan kritik cerdas dan tepat sasaran pada setiap hal-hal kecil yang terjadi di sekitar kita. Terakhir, komik merupakan situs yang kaya akan tanda (sign) dengan berbagai interpretasi yang dapat dimunculkan. Dalam pembahasan kali ini, interpretasi hanya dilakukan pada tataran permukaan. Oleh sebab itu, pada kesempatan ini saya mendorong teman-teman untuk bersama-sama memperdalam dan memperkaya interpretasi kita melalui diskusi interaktif yang merdeka.
*Ditulis untuk acara diskusi CONFORMEAST di Jurusan Hubungan Internasional UNPAD, 15 November 2007.
[1] Sebagai contoh di Indonesia adalah keberadaan strip komik Panji Koming dimana secara konsisten mengkritik berbagai persoalan sosial, politik, dan budaya. Lalu Beny&Mice yang dapat disebut sebagai satire kehidupan Indonesia. Selain itu hampir setiap media cetak memiliki ikon komik sebut saja Kompas dengan Oom Pasikom, Pikiran Rakyat dengan Mang Ohle, dan Poskota dengan Doyok.
[2] Scott McCloud. 1994. Understanding Comics: The Invisible Arts. New York: Harper., hal 1-2.
[3] Pada masa Perang Dunia komikus sering dipekerjakan untuk melakukan propaganda. Terutama selama PD II dan di masa Perang Dingin.
[4] Arthur Asa Berger. 2001. Politics In The Comics dalam Media Effect in USA., New York: Sage Publishing., hal. 34.
[5] Beberapa contoh komik tersebut adalah Kunimitsu, Ministry of Finance, Reds, Red Eye, Lord, V For Vendeta, Dalai Lama, Say Hello to Black Jack, dll.
[6] Tim O’Sullivan, Hartley, Saunders, dan Fiske. 1983. Key Concept In Communication. London: Methuen & Co.Ltd., hal. 185.
MAN JADDA WAJADA: SUATU PERTEMUAN
Man jadda wajada adalah sebuah mantra sakti. Mantra sakti ini diberikan oleh para pengajar di Pondok Modern Gontor kepada siswa-siswanya. Salah satu siswanya, A. Fuadi membagi pengalamannya mengenai mantra man jadda wajada dalam sebuah novel yang berjudul Negeri 5 Menara. Novel ini menceritakan kembali pengalaman-pengalaman penulis ketika belajar di Gontor. Pengalaman-pengalaman mengenai bagaimana man jadda wajada menjadi panduan untuk meraih cita-cita. Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil.
***
Saya pertama kali mendapatkan informasi tentang Negeri 5 Menara dari mailing list HIMA HI UNPAD. Dalam mailing list tersebut diinformasikan bahwa salah satu alumni HI UNPAD baru saja menerbitkan novel. Mailing list juga menginformasikan link website novel tersebut. Dikarenakan penasaran, saya telusuri link novel tersebut untuk mendapatkan informasi lebih banyak. Setelah berselancar beberapa lama, saya berkeinginan kuat untuk membaca novel tersebut dan membelinya bila ada waktu.

5 Menara: Negeri 5 Menara
Beberapa hari kemudian, Novel Negeri 5 Menara telah ada dalam genggaman. Saya hanya membutuhkan 1.5 hari untuk membaca tuntas novel ini. Hal ini dikarenakan penceritaan di dalamnya yang lucu dan sarat nilai kehidupan namun dikemas secara sederhana. Pengemasan cerita yang sederhana menjadikan novel ini ramah untuk dibaca dalam berbagai keadaan. Ketika kita sedih novel ini menyenangkan, di kala bete ia menggembirakan, ketika ingin menyerah ia menyemangati, ketika gagal ia memotivasi, dan ketika bahagia ia mengingatkan untuk bersyukur.
Pengalaman membaca Negeri 5 Menara sangatlah berharga. Di tengah berbagai ketidak pastian dalam hidup novel ini membuka mata kita untuk jangan pernah berputus asa. Kehidupan haruslah diringi dengan kesungguhan dalam berusaha dan doa kepada Allah. Seperti yang tercantum di buku tulis ketika saya SMP, if there is a will there is a way. Pepatah yang selalu relevan. Lalu, man jadda wajada melengkapi lubang dari pepatah tersebut mengenai kuasa ilahi.
Tuntunan takdir mengantarkan saya untuk bertemu langsung dengan A. Fuadi pengarang Negeri 5 Menara. Secara tidak disengaja, saya mengingat pernah membaca jadwal talk show Negeri 5 Menara bersama dengan A. Fuadi di Pondok Gede. Saya sedikit lupa tanggal dan jam pelaksanaanya. Saya hanya mengingat hari Sabtu sekitar pukul 17.00. Man jadda wajada, saya pun nekat berangkat ke Mall Pondok Gede siapa tahu ingatan saya benar. Sambil ngabuburit. Saya juga menyiapkan rencana lain yaitu mencari makanan untuk buka puasa, jaga-jaga agar perjalanan tidak mubazir jikalau ternyata acaranya terlewat atau ternyata saya salah.
Sesampainya di mall talk show yang dimaksud tidak terlihat. Lebih tepatnya saya tidak tahu lokasi pasti tempat pelaksanaanya. Setelah berputar beberapa lama, memesan makanan dan masuk ke toko buku, talk show tidak juga terlihat. Saya pikir saya terlambat karena jalan menuju mall cukup macet. Oke, saya memutuskan untuk pulang karena jam menunjukkan jam 17.30, sebentar lagi waktunya buka puasa. Saat menuju parkiran suara dari sekelompok penyanyi perempuan mengundang rasa ingin tahu saya. Saya intip, man jadda wajada, ampuh bener nih mantra, ternyata mereka menyanyi dalam acara talk show yang baru dimulai.
Singkat cerita, saya mengikuti talk show dengan seksama. Saya juga berkenalan dengan A. Fuadi dan memperkenalkan diri baru lulus dari HI UNPAD. Saya berbicara beberapa saat dengannya dan diberikan sebungkus teh manis dingin untuk berbuka. Setelah itu, ia pun beranjak mengikuti kegiatan lain. Sebelumnya saya tidak lupa untuk meminta tanda tangan di novel Negeri 5 Menara yang telah dibeli. Satu untuk saya, satu untuk Ririe.

Pertama kali meminta tanda tangan sama orang selain guru dan orang tua.
Kurang dari satu minggu sejak membeli Negeri 5 Menara saya bertemu langsung dengan pengarangnya. Ini mungkin yang disebut dengan tuntunan takdir, kita tidak akan pernah tahu apa yang terjadi di masa depan. Hanya saja dengan kesungguhan, keberanian dan semangat kita dapat mewujudkan apa yang kita inginkan di masa depan. Keinginan ini dapat terwujud dengan memaksimalkan peluang dan memanfaatkan waktu secara maksimal dengan disertai doa. Terakhir, pengalaman saya membaca dan bertemu dengan pengarang Negeri 5 Menara adalah peristiwa yang sangat berkesan. Mudah-mudahan ini adalah berkah dan petunjuk dari Allah.
MENGELOLA SENSITIVITAS AMBALAT
Sengketa ambalat antara Indonesia dengan Malaysia lagi-lagi mengundang perhatian masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia kali ini cukup geram dan jengkel tak tertahankan terhadap manuver Malaysia. Kita begitu mudah tersulut emosinya bila berkaitan dengan wilayah kedaulatan terutama bila berurusan dengan Malaysia. Hal ini di satu sisi menguntungkan namun di sisi lain dapat merugikan bila tidak dikelola secara arif dan bijaksana.
Hal yang menguntungkan dari isu persengketaan dengan Malaysia perihal Blok Ambalat adalah kembali tumbuhnya rasa kepemilikan terhadap Indonesia. Rasa memiliki atas negara ini yang seakan pudar kembali menunjukan sinarnya. Namun, bersinarnya kembali rasa memiliki hanyalah sesuatu yang semu dan sesaat bila masyarakat tidak terinformasikan dengan baik. Masyarakat perlu mengetahui informasi yang jelas mengenai sengketa di Blok Ambalat.
Pertama, isu Blok Ambalat adalah sengketa penetapan perbatasan laut antara Indonesia dengan Malaysia. Penetapan ini adalah konsekuensi atas kepemilikan Pulau Sipadan-Ligitan oleh Malaysia yang berimplikasi pada berubahnya garis perbatasan laut. Perubahan ini mengharuskan kedua pihak untuk merundingkan garis perbatasan lautnya. Indonesia kali ini meperjuangkan hak untuk mengeksplorasi sumber daya alam di perairan Blok Ambalat.
Perlu untuk diketahui sebelum perjanjian batas laut dengan Indonesia disepakati Malaysia telah mengklaim wilayah perairan yang luas di perairan Sulawesi. Klaim Malaysia didasari pada peta kontroversial yang dibuat tahun 1979. Kontroversi dari peta Malaysia adalah diabaikannya hak Indonesia sebagai negara yang berdaulat dan ketetapan hukum laut internasional (UNCLOS). Tindakan unilateral dari Malaysia inilah yang menjadi akar permasalahan sengketa di Blok Ambalat.
Kedua, berdasarkan UNCLOS sengketa perbatasan laut diselesaikan dengan cara damai. Terdapat empat prosedur penyelesaian sengketa: (i) melalui Mahkamah Internacional; (2) melalui Pengadilan Hukum Laut Internasional (ITLOS); (3) arbitrasi; dan (4) arbitrasi khusus (KBRI Singapura, 2004). Indonesia sebagai negara yang meratifikasi UNCLOS sudah sepatutnya menjalankan prosedur yang ditetapkan. Perang dengan pengerahan kekuatan militer besar-besaran masih belum perlu dilakukan. Selain mubazir, perang juga tidak sesuai dengan tujuan bangsa ini untuk berperan serta dalam menjaga perdamaian dunia.
Ketiga, dengan belum diperlukannnya mendeklarasikan perang maka diplomasi patut untuk dikedepankan. Hal yang perlu dicatat adalah perundingan penetapan perbatasan laut membutuhkan waktu yang cukup lama. Adalah tidak mungkin kesepakatan akan tercipta dalam waktu singkat. Penetapan garis perbatasan di laut memerlukan argumentasi yang dilengkapi dengan bukti-bukti historis, legal dan teknis untuk memperkuat klaim hak atas suatu perairan. Hak ini berupa otoritas untuk mengeksplorasi sumber daya di dalamnya secara sah.
Keempat, bila ditinjau dari bukti yang ada saat ini Indonesia memiliki hak untuk berdaulat di Blok Ambalat. Hak ini bisa dilihat dari fakta sejarah bahwasanya Indonesia semenjak tahun 1970 telah memberikan konsesi penambangan minyak lepas pantai di Blok Ambalat. Selama itu pula Malaysia belum pernah mengajukan keberatan. Berdasarkan praktik negara (state practice) dalam menetapkan garis perbatasan, Indonesia memiliki landasan kuat untuk mengklaim hak untuk berdaulat di Blok Ambalat.
Empat informasi sederhana di atas dapat dijadikan katalis bagi masyarakat untuk mengelola sensitivitasnya dengan lebih arif dan bijaksana. Sensitivitas yang dapat mengerakan kembali keingintahuan dan rasa memiliki di masyarakat terhadap wilayah Indonesia. Sensitivitas yang dapat menyalurkan emosi masyarakat secara propossional, cerdas dan pada tempatnya. Pengelolaan emosi masyarakat yang baik dapat mendukung upaya diplomasi yang dilakukan pemerintah.
LETAK GEOGRAFIS DAN MASA DEPAN INDONESIA
“Man not nature initiates, but nature in large measure control” (Sir Halford Mackinder)

Peta Indonesia
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Negara ini juga memiliki posisi geografis yang unik sekaligus menjadikannya strategis. Hal ini dapat dilihat dari letak Indonesia yang berada di antara dua samudera dan dua benua sekaligus memiliki perairan yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan internasional. Posisi ini menempatkan Indonesia berbatasan laut dan darat secara langsung dengan sepuluh negara di kawasan. Keadaan ini menjadikan Indonesia rentan terhadap sengketa perbatasan dan ancaman keamanan yang menyebabkan instabilitas dalam negeri dan di kawasan.
Letak geografis merupakan salah satu determinan yang menentukan masa depan dari suatu negara dalam melakukan hubungan internasional. Meski untuk sementara waktu sedang diacuhkan, kondisi geografis suatu negara akan menentukan peristiwa-peristiwa yang memiliki pengaruh secara global. Robert Kaplan menuturkan bahwa geografi secara luas akan menjadi determinan yang mempengaruhi berbagai peristiwa lebih dari pada yang pernah terjadi sebelumnya (Foreign Policy, May/June, 09). Di masa yang akan datang, keberadaan Indonesia akan dipengaruhi oleh kondisi dan letak geografisnya. Maka tata kelola sumber daya alam, wilayah perbatasan dan pertahanan yang mumpuni sangat diperlukan.
Dikarenakan letaknya yang strategis semenjak dulu Indonesia telah menjadi arena perebutan pengaruh oleh pihak asing. Negara ini telah melalui beberapa periodisasi penguasaan dan perebutan pengaruh, mulai dari Portugal, Belanda, hingga Amerika Serikat dan Uni Soviet ketika Perang Dingin. Di masa mendatang tidak menutup kemungkinan Indonesia akan kembali menjadi wilayah perebutan pengaruh oleh negara-negara besar. Hal ini bisa dilihat dengan kemunculan China sebagai hegemon baru di kawasan yang telah menggeser perimbangan kekuasaan sekaligus mengikis pengaruh Amerika di kawasan.
Selain itu Indonesia dan kawasan sekitarnya dapat menjadi daerah rawan sengketa. Sengketa ini bisa terjadi mengingat Indonesia masih belum menyelesaikan masalah-masalah semisal batas laut dengan negara-negara seperti, Australia, Filipina, Palau, Papua Nugini dan Timor Leste. Proses perundingan perbatasan membutuhkan waktu yang lama, sementara itu hal ini akan menjadikan Indonesia rentan terhadap pengaruh asing akibat kontrol di perbatasan yang lemah. Mulai dari kejahatan transnasional hingga terorisme sangat mungkin dilakukan di Indonesia yang sangat luas dengan kondisi geografisnya dan pengawasan yang terbatas.
Secara ringkas, hubungan antara posisi geografis yang strategis dan keberadaan negara Indonesia di masa mendatang akan ditentukan oleh dua hal. Pertama, seberapa baik negara ini menyelesaikan proses perundingan perbatasan. Hasil dari perundingan perbatasan dengan negara lain akan menentukan strategi pengelolaan perbatasan dan pertahanan. Kedua, strategi yang akan dilakukan Indonesia dalam mengantisipasi pengaruh China dan negara besar lainnya di kawasan Asia Timur.
Penting untuk diketahui oleh masyarakat Indonesia bahwa letak dan kondisi geografis negara ini sangat mempengaruhi keberadaanya di masa depan. Masyarakat juga perlu untuk menyadari bahwa menyandarkan pemerintah seorang diri untuk mengahadapi tantangan atas fakta geografis dari negara ini adalah hal yang keliru. Pemerintah memiliki keterbatasan untuk mengatasi dan menginisiasi tantangan di masa depan seorang diri. Kita juga perlu untuk mendukung pemerintah dikarenakan masa depan masyarakat Indonesia dipertaruhkan di sini. Sudah saatnya masyarakat melihat kembali atlas wilayah Indonesia untuk setidaknya mengetahui dimana letak Palau berada dan pulau-pulau terluar negara ini.
Masa depan Indonesia tidak dapat dilepaskan dari letak dan kondisi geografisnya. Patut diingat, masyarakat banyak yang kecewa ketika Pulau Sipadan-Ligitan lepas dari wilayah Indonesia meski awalnya mereka tidak tahu atau bahkan peduli dengan keberadaan pulau tersebut. Ketidak-pedulian dan ketidak-tahuan kita terhadap wilayah dan geografi Indonesia akan berujung bencana bagi diri sendiri. Geografi akan menjadi determinan yang menentukan masa depan Indonesia adalah hal yang tidak dapat dipungkiri lagi. Namun perlu untuk digaris bawahi bahwa keberadaan Indonesia di masa mendatang terletak pada seberapa jauh masyarakat mengenali dan memahami wilayah yang kita tinggali saat ini.
Terakhir, ada baiknya wawasan nusantara tidak lagi dilihat sebagai hafalan ketika ujian kewarganegaraan. Tetapi sebagai sebuah cerminan terhadap perlunya kita memahami lingkungan dan letak serta kondisi geografis Indonesia. Dikarenakan wilayah Indonesia dengan fakta geografisnya adalah wadah bagi kita untuk menuangkan berbagai ide demi menjawab tantangan saat ini dan di masa yang akan datang.



