HIDUP ADALAH PENJELAJAHAN
“Dunia tidak sebesar daun kelor!”
Hidup bermula dari penjelajahan. Sejak lama, manusia bergairah untuk menjelajah. Manusia selalu penasaran dan takjub untuk mengetahui lingkungan di luar tempat tinggalnya. Penjelajahan telah membuka cakrawala tentang keberagaman hidup manusia. Terbuka dan bertambahnya cakrawala juga menjadi jembatan antar peradaban untuk saling memahami.
Kita dapat menggunakan kisah-kisah penjelajahan yang tercatat dan sahih sebagai referensi. Kisah-kisah tersebut merupakan pendorong bagi generasi selanjutnya untuk kembali melakukan penjelajahan. Dengan demikian seseorang dapat memulai dan memiliki penjelajahannya sendiri.
Terdapat tiga penjelajah yang catatan perjalanannya dapat dijadikan referensi. Mereka antara lain, Ibnu Battutah, Marco Polo dan Arnold J. Toynbee. Bagi Ibnu Battutah penjelajahan adalah ibadah di satu sisi dan pembelajaran di sisi lain. Marco Polo melihat penjelajahan sebagai kesempatan untuk memperluas jaringan perdagangan. Sementara Toynbee melakukan penjelajahan untuk melihat bangunan-bangunan ternama dari Timur dan Barat agar dapat memahami sejarah budaya bangsa-bangsa. Satu hal yang sama-sama dimiliki ketiganya adalah penghormatan atas keberanian dan pengetahuan yang disebar- luaskan.
Sebagai keturunan pelaut, bangsa Indonesia seakan terlahir untuk menjelajah. Fakta memperlihatkan bangsa Indonesia memiliki sejarah sebagai penjelajah ulung. Sebagai contoh, orang padang selalu terdorong untuk menyeberangi lautan dan membuka usaha di tempat yang dituju. Orang Jawa telah berlayar hingga mencapai Suriname. Bahkan Syekh Yusuf Al-Makasari pemuka agama asal Makasar berhasil berlabuh di Tanjung Harapan dan menyebarkan Islam di ujung selatan Afrika. Sayangnya, catatan perjalanan bangsa Indonesia di masa lalu tidak tersimpan baik.
Masalah klasik dalam memulai penjelajahan adalah dana. Penjelajahan membutuhkan dana yang cukup selain diperlukan juga mental, keberanian dan pengetahuan. Meski demikian, ketersediaan dana menjadi hal utama yang harus dipersiapkan untuk melakukan penjelajahan. Meski demikian masalah ketersedian dana adalah hal yang selalu dapat disiasati.
Bagi orang Indonesia menjelajah adalah panggilan hidup. Setidaknya bagi beberapa orang, mereka yang berkeinginan menjelajahi Mekah untuk berhaji dan berziarah ke Jerusalem. Beberapa ingin menjelajahi tempat-tempat belanja di luar negeri. Adapula mereka yang menjelajah sekaligus sekolah di luar negeri. Apapun alasan dan kemanapun tujuan seseorang, penjelajahan dapat menambah pengetahuan dan membuka pikiran dalam melihat berbagai hal.
Hal yang menarik berkaitan dengan penjelajahan ke luar negeri adalah munculnya empat tipe penjelajah Indonesia. Pertama, tipe penjelajah kaya raya yang memiliki sumber dana yang melimpah. Kedua tipe penjelajah cerdas yang memiliki kepintaran sehingga ia dapat memperoleh bantuan dana baik berupa beasiswa maupun hibah.
Ketiga, tipe penjelajah beruntung yang memiliki keberuntungan luar biasa. Penjelajah tipe ini dapat pergi menjelajah karena memenangi undian berhadiah, lomba menulis dan menggantikan orang yang berhalangan karena berbagai alasan. Keberuntungan tipe ini terletak dari kemampuannya menyadari peluang yang dapat membawanya menuju penjelahan terbaik sepanjang masa.
Tipe keempat adalah penjelajah nekad bin mental baja. Tipe ini memiliki keinginan kuat untuk menjelajah dan bersedia untuk melakukan apa saja untuk mewujudkan. Penjelajah tipe ini mengedepankan filosofi ‘hajar terus pantang mundur’. Keberanian dan kepercayaan tipe keempat sangatlah luar biasa.
Penjelajahan adalah awal dari kehidupan manusia serta diyakini juga sebagai awal baru setelah kematian manusia. Setiap manusia akan memiliki catatan perjalanan penjelajahannya masing-masing. Apapun tipe penjelajah seseorang menjelajah telah keharusan. Terakhir, hidup manusia ibarat air bila tertahan maka akan keruh dan rusak namun akan mengalir jernih bila bergerak. Hidup adalah penjelajahan.
KRITIK DAN PROPAGANDA DALAM KOMIK
Serangan teroris ke Amerika Serikat yang ditandai dengan runtuhnya World Trade Center di New York membuka lembaran baru konstelasi isu dalam politik dunia. Peristiwa itu juga turut mengubah pandangan masyarakat di A.S mengenai prioritas kebijakan luar negerinya. Sebagai respon, pemerintah A.S mulai mengadakan pencarian besar-besaran terhadap pelaku terorisme. Kebijakan ini terkenal dengan strategi pre-emptive strike yang merupakan bagian dari Global War on Terror-nya (GWOT) A.S, dengan target pertama Afghanistan.
Kebijakan penangkalan terorisme pemerintah A.S telah dinantikan oleh berbagai industri media masa dan masyarakat secara luas. Kebijakan yang satu ini pantas untuk mendapat porsi peliputan yang lebih. Hal ini dilakukan sebagai usaha media massa untuk kembali mengangkat moral dan kepercayaan diri rakyat untuk terus melanjutkan hidupnya. Upaya tersebut dilakukan dengan berbagai cara mulai dari konser musik, acara talk-show televisi, hingga aksi simpatik di kawasan ground zero.

Cover edisi terjemahan Indonesia. Diambi dari http://bukuygkubaca.blogspot.com/2007/09/911-kegagalan-amerika-melindungi.html
Ditengah berbagai upaya tersebut, industri komik di Amerika juga mulai mengubah pengemasan, pencitraan, dan penceritraanya. Kemunculan berbagai edisi khusus dalam komik superheroes yang berlatar belakang perang melawan terror, seperti “Batman against bin Laden.” Serta muncul pula komik-komik arus bawah yang mencoba menggambarkan peristiwa 9/11 secara objektif. Komik-komik ini berusaha untuk menjelaskan apa yang terjadi sebelum dan sesudah peristiwa 9/11.
Salah satu komik yang menunjukan usaha tersebut adalah “The 9/11 Report: A Graphic Adaptation” yang dibuat oleh Sid Jacobson dan Ernie Colon. Komikus handal yang malang melintang dalam industri komik A.S. Jacobson sendiri adalah pencipta tokoh komik Richie Rich.
Tulisan ini merupakan usaha untuk melihat komik sebagai suatu objek pembelajaran dalam memahani peran media masa dalam pembuatan kebijakan luar negeri (foreign policy) suatu negara. Disini komik dilihat sebagai suatu saluran dan alat untuk mengkritisi pemerintah dan menginformasikan kebijakan pemerintah mengenai suatu isu kepada khalayak.
Politik dalam komik
Komik telah mengalami berbagai perubahan dalam banyak hal. Secara etimologis komik berasal dari comical yang dapat diartikan sebagai lucu, lelucon, dan kelucuan. Komik seringkali identik dengan kekanak-kanakan, ketidak-seriusan dan hiburan sekilas lalu. Dengan tumbuhnya industri komik di A.S dan Jepang, komik mulai diterbitkan lebih menantang dari segi cerita, sistematis dalam penyampaian, dan menarik dalam pengemasan.
Secara historis komik dibuat bukan untuk menghibur. Pada awalnya komik merupakan bagian dari kritik dan satire terhadap otoritas perihal kehidupan masyarakat. Serta tidak jarang komik sangat politis, rasis, dan sexist. Secara perlahan komik semakin berisikan hal-hal yang politis serta bersifat mengolok-olok. Kecenderungan tersebut terus terjadi hingga saat ini bahkan sangat dinantikan kehadirannya.[1]
Adalah keliru untuk mengatakan bahwa komik merupakan sesuatu yang bersifat konyol dan tidak serius atau bahkan kekanak-kanakan. Strip komik telah hadir dalam kurun waktu yang lama di tengah-tengah masyarakat. Selain itu pula komik mulai dipelajari dan dilihat lebih dari sekedar seni cerita bergambar. Sehingga tak ayal memunculkan definisi baru mengenainya. Salah satunya dilakukan oleh Scott McCloud yang mendefnisikan komik sebagai gambar dan ide-ide lain yang terjuktaposisi dalam runutan maksud, yang bertujuan untuk memahami informasi dan-atau menciptakan respon yang apresiatif terhadap pembacanya.[2]

Ledakan di WTC pada peristiwa 9/11
Pembuatan komik sangat dipengaruhi oleh dua faktor yang berasal dari luar dan internal. Faktor internal mengacu pada idiosinkrasi komikus, latar belakang, tempat ia bekerja, serta riset dan desain penceritaan. Sedangkan faktor dari luar meliputi sistem politik, keadaan internasional, selera pasar, dan peta persaingan popularitas. Dalam pembuatannya tanpa disadari seringkali berifat ideologis.[3] Sebagaimana pendapat Arthur Asa Berger, bahwasanya segala bentuk ekspresi berkaitan erat dengan ideologi, politik, dan budaya pop.[4]
Hal ini menjadikan tema-tema dalam komik baik secara implisit maupun eksplisit bersifat politis serta mendukung salah satu pemikiran dan kritik terhadap suatu isu masa kini ataupun lampau. Hal ini semakin termanifestasi dengan kehadiran komik berkategori dewasa atau remaja yang bertema politik maupun yang bersifat politis. Dimana secara ekplisit berbentuk kritik, mendukung emansipasi dan ajakan untuk melawan kesewenangan.[5] Usaha tersebut direpresentasikan dan dicitrakan secara menarik dalam bentuk komik.
Kritik dan Propaganda
Komik 9/11 Report: A Graphic Adaptation merupakan komik yang dibuat berdasarkan laporan dari komisi 9/11. Sebuah komisi yang dibentuk untuk menyelidiki dan mencari fakta juga alasan-alasan mengapa serta bagaimana AS dapat diserang oleh kelompok teroris. Laporan dari komisi diharapkan dapat membantu berbagai pihak mengenai apa yang terjadi pada hari itu dan pada tahun-tahun sebelum terjadinya serangan. Laporan komisi ini mengahasilkan sebuah buku yang sangat tebal, berisi hasil temuan dan rekomendasi untuk mengantisipasi kembali terjadinya serangan teroris ke AS. Sayangnya, tidak semua masyarakat A.S membacanya disebabkan oleh berbagai hal.

Contoh penggambaran dalam komik yang sexist.
Hingga akhirnya Jacobson dan Colon berinisiatif untuk memvisualisasikan laporan komisi ke dalam komik dengan tutur bahasa yang lebih ringkas dan dapat dipahami. Hal ini dilakukan dengan harapan dapat semakin memudahkan masyarakat untuk membaca isi laporan komisi. Selain itu komik ini dapat lebih menjangkau berbagai lapisan bawah masyarakat terutama remaja, pekerja, dan komunitas komik itu sendiri. Komik juga sesuai bagi mereka yang termasuk ke dalam tipe pembelajar visual.
Meski komik ini merupakan adaptasi dari laporan komisi 9/11, secara garis besar komik ini memvisualisasikan kegamangan pemerintah A.S dalam mengatasi potensi ancaman serangan teroris. Melalui penggambaran dalam komik diperlihatkan berbagai kelemahan, ketidak-siapan, dan perbedaan pendapat dalam penanganan masalah teroris.
Lebih lanjut, komik ini berusaha menunjukan kegagalan A.S dalam melindungi warganya dari serangan teroris. Kegagalan yang menyebabkan A.S mengalami serangan terbesar untuk yang kedua kali di wilayahnya. Dimana kali ini sasarannya sangat signifikan dengan dampak yang besar serta dilakukan di masa damai dan bukan dilakukan oleh negara lain.
Kegagalan ini dikarenakan bibit persengketaan serta standar ganda yang diterapkan oleh pemerintah A.S dari masa ke masa. Terutama di kawasan Timur-Tengah setelah berakhirnya Perang Dunia II. Pada akhirnya A.S menuai sendiri bibit yang pernah mereka tanam. Salah satu contoh adalah Osama Bin Laden yang pada awalnya sekutu A.S ketika terjadi konflik di Afghanistan pada saat Perang Dingin. Kemudian berbalik melawan A.S disebabkan kekecewaannya terhadap sengketa Palestina-Israel. Kekecewaan ini kemudian dimanfaatkan untuk mendapatkan simpati dan dukungan dari orang islam di berbagai tempat.
Sementara itu, secara khusus kegagalan A.S dilihat melalui sedikitnya tiga hal. Pertama koordinasi yang lemah antar departemen dalam menghadapi kemungkinan terjadinya serangan. Setiap departemen/ instansi elit di A.S memiliki ego yang besar terutama dalam lembaga-lembaga intelijen yang ada di Departemen Pertahanan, CIA, FBI, dan NSA. Ego sektoral ini menyebabkan informasi yang terkait isu terorisme sering ditangani secara parsial berdasarkan wewenang dan tanggung jawab yang diberikan.
Kedua, keadaan diatas membuat para pembuat keputusan semakin kesulitan untuk mengatasi ancaman potensial dari kemungkinan serangan teroris ke A.S. Setelah beberapa kali terjadi penyerangan terhadap aset-aset milik A.S di luar negeri. Perdebatan yang sengit antar elit dalam menentukan kebijakan menyebabkan kebijakan yang dikeluarkan menjadi tidak maksimal.
Ketiga, kedua faktor diatas menunjukan dan menjadikan pemerintah A.S mengalami keterbatasan inisiatif dan kreativitas dalam mengatasi potensi ancaman serangan. Hal ini berdampak sangat buruk serta sukses memuculkan korban jiwa dan rasa takut di dalam kehidupan rakyat A.S. Dampak ini juga mempengaruhi situasi keamanan global secara keseluruhan.
Komik ini meski bermaksud untuk melakukan kritik terhadap pemerinta A.S, di saat yang bersamaan komik ini juga melakukan propaganda terhadap kebijakan A.S melawan teroris. Hal ini terjadi melalui penggambaran yang divisualisasikan secara eksplisit maupun implisit. Propaganda diartikan sebagai suatu kontrol, penggambaran dan manipulasi yang sengaja dilakukan dalam arus komunikasi dan informasi untuk mencapai tujuan politis tertentu.[6]
Secara eksplisit komik ini merepresentasi para pelaku teroris identik dengan janggut panjang, ras arab, misterius, berbahaya, dan fundamentalis. Hal ini memunculkan pandangan negatif terhadap muslim di seluruh dunia. Berdasarkan survey dari Media&Society Research Group Cornell University tahun 2004, menunjukkan persepsi warga A.S terhadap negara dan orang islam sangatlah buruk. Mayoritas warga A.S setuju bahwa umat dan negara islam adalah berbahaya, fanatik, dan kejam, serta terbelakang.
Sedangkan secara implisit komik ini berusaha mempengaruhi khalayak agar memberikan dukungan penuh kepada pemerintah untuk mengambil segala tindakan yang diperlukan untuk memberikan rasa aman bagi warganya. Pada awal lawatan invasi A.S di Afghanistan, mayoritas warga A.S sangat mendukung usaha pemerintahannya.Terlihat dari hasil survey yang dilakukan oleh lembaga yang sama menunjukan dukungan yang tinggi dalam kebijakan perang melawan terorisme. Sebagai informasi 42 persen warga A.S meyakini alasan perang melawan terorisme bertujuan untuk melindungi warga A.S dari serangan teroris di masa depan.
Penutup
Tanpa disadari komik sebagai suatu bentuk media massa telah menjadi alat politik yang berpengaruh. Di satu sisi komik merupakan otokritik terhadap keadaan dan kehidupan sosial masyarakat. Di sisi lain komik juga menjadi alat pendukung justifikasi implementasi kebijakan suatu negara. Hal ini tidak terlepas dari fungsi dan peran media massa ketika diproduksi lalu dipasarkan menjalankan suatu agenda setting. Lalu, hal ini akan membentuk opini publik melalui konstruk-konstruk realitas mengenai suatu isu. Terutama bila isu tersebut menjadi isu yang populer maka kepentingan dan power bermain di dalamnya.
Komik merupakan suatu media atraktif yang dapat digunakan untuk mempermudah pemahaman kita mengenai suatu isu global, terorrisme misalnya. Pemahaman akan memunculkan kritik cerdas dan tepat sasaran pada setiap hal-hal kecil yang terjadi di sekitar kita. Terakhir, komik merupakan situs yang kaya akan tanda (sign) dengan berbagai interpretasi yang dapat dimunculkan. Dalam pembahasan kali ini, interpretasi hanya dilakukan pada tataran permukaan. Oleh sebab itu, pada kesempatan ini saya mendorong teman-teman untuk bersama-sama memperdalam dan memperkaya interpretasi kita melalui diskusi interaktif yang merdeka.
*Ditulis untuk acara diskusi CONFORMEAST di Jurusan Hubungan Internasional UNPAD, 15 November 2007.
[1] Sebagai contoh di Indonesia adalah keberadaan strip komik Panji Koming dimana secara konsisten mengkritik berbagai persoalan sosial, politik, dan budaya. Lalu Beny&Mice yang dapat disebut sebagai satire kehidupan Indonesia. Selain itu hampir setiap media cetak memiliki ikon komik sebut saja Kompas dengan Oom Pasikom, Pikiran Rakyat dengan Mang Ohle, dan Poskota dengan Doyok.
[2] Scott McCloud. 1994. Understanding Comics: The Invisible Arts. New York: Harper., hal 1-2.
[3] Pada masa Perang Dunia komikus sering dipekerjakan untuk melakukan propaganda. Terutama selama PD II dan di masa Perang Dingin.
[4] Arthur Asa Berger. 2001. Politics In The Comics dalam Media Effect in USA., New York: Sage Publishing., hal. 34.
[5] Beberapa contoh komik tersebut adalah Kunimitsu, Ministry of Finance, Reds, Red Eye, Lord, V For Vendeta, Dalai Lama, Say Hello to Black Jack, dll.
[6] Tim O’Sullivan, Hartley, Saunders, dan Fiske. 1983. Key Concept In Communication. London: Methuen & Co.Ltd., hal. 185.
MAN JADDA WAJADA: SUATU PERTEMUAN
Man jadda wajada adalah sebuah mantra sakti. Mantra sakti ini diberikan oleh para pengajar di Pondok Modern Gontor kepada siswa-siswanya. Salah satu siswanya, A. Fuadi membagi pengalamannya mengenai mantra man jadda wajada dalam sebuah novel yang berjudul Negeri 5 Menara. Novel ini menceritakan kembali pengalaman-pengalaman penulis ketika belajar di Gontor. Pengalaman-pengalaman mengenai bagaimana man jadda wajada menjadi panduan untuk meraih cita-cita. Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil.
***
Saya pertama kali mendapatkan informasi tentang Negeri 5 Menara dari mailing list HIMA HI UNPAD. Dalam mailing list tersebut diinformasikan bahwa salah satu alumni HI UNPAD baru saja menerbitkan novel. Mailing list juga menginformasikan link website novel tersebut. Dikarenakan penasaran, saya telusuri link novel tersebut untuk mendapatkan informasi lebih banyak. Setelah berselancar beberapa lama, saya berkeinginan kuat untuk membaca novel tersebut dan membelinya bila ada waktu.

5 Menara: Negeri 5 Menara
Beberapa hari kemudian, Novel Negeri 5 Menara telah ada dalam genggaman. Saya hanya membutuhkan 1.5 hari untuk membaca tuntas novel ini. Hal ini dikarenakan penceritaan di dalamnya yang lucu dan sarat nilai kehidupan namun dikemas secara sederhana. Pengemasan cerita yang sederhana menjadikan novel ini ramah untuk dibaca dalam berbagai keadaan. Ketika kita sedih novel ini menyenangkan, di kala bete ia menggembirakan, ketika ingin menyerah ia menyemangati, ketika gagal ia memotivasi, dan ketika bahagia ia mengingatkan untuk bersyukur.
Pengalaman membaca Negeri 5 Menara sangatlah berharga. Di tengah berbagai ketidak pastian dalam hidup novel ini membuka mata kita untuk jangan pernah berputus asa. Kehidupan haruslah diringi dengan kesungguhan dalam berusaha dan doa kepada Allah. Seperti yang tercantum di buku tulis ketika saya SMP, if there is a will there is a way. Pepatah yang selalu relevan. Lalu, man jadda wajada melengkapi lubang dari pepatah tersebut mengenai kuasa ilahi.
Tuntunan takdir mengantarkan saya untuk bertemu langsung dengan A. Fuadi pengarang Negeri 5 Menara. Secara tidak disengaja, saya mengingat pernah membaca jadwal talk show Negeri 5 Menara bersama dengan A. Fuadi di Pondok Gede. Saya sedikit lupa tanggal dan jam pelaksanaanya. Saya hanya mengingat hari Sabtu sekitar pukul 17.00. Man jadda wajada, saya pun nekat berangkat ke Mall Pondok Gede siapa tahu ingatan saya benar. Sambil ngabuburit. Saya juga menyiapkan rencana lain yaitu mencari makanan untuk buka puasa, jaga-jaga agar perjalanan tidak mubazir jikalau ternyata acaranya terlewat atau ternyata saya salah.
Sesampainya di mall talk show yang dimaksud tidak terlihat. Lebih tepatnya saya tidak tahu lokasi pasti tempat pelaksanaanya. Setelah berputar beberapa lama, memesan makanan dan masuk ke toko buku, talk show tidak juga terlihat. Saya pikir saya terlambat karena jalan menuju mall cukup macet. Oke, saya memutuskan untuk pulang karena jam menunjukkan jam 17.30, sebentar lagi waktunya buka puasa. Saat menuju parkiran suara dari sekelompok penyanyi perempuan mengundang rasa ingin tahu saya. Saya intip, man jadda wajada, ampuh bener nih mantra, ternyata mereka menyanyi dalam acara talk show yang baru dimulai.
Singkat cerita, saya mengikuti talk show dengan seksama. Saya juga berkenalan dengan A. Fuadi dan memperkenalkan diri baru lulus dari HI UNPAD. Saya berbicara beberapa saat dengannya dan diberikan sebungkus teh manis dingin untuk berbuka. Setelah itu, ia pun beranjak mengikuti kegiatan lain. Sebelumnya saya tidak lupa untuk meminta tanda tangan di novel Negeri 5 Menara yang telah dibeli. Satu untuk saya, satu untuk Ririe.

Pertama kali meminta tanda tangan sama orang selain guru dan orang tua.
Kurang dari satu minggu sejak membeli Negeri 5 Menara saya bertemu langsung dengan pengarangnya. Ini mungkin yang disebut dengan tuntunan takdir, kita tidak akan pernah tahu apa yang terjadi di masa depan. Hanya saja dengan kesungguhan, keberanian dan semangat kita dapat mewujudkan apa yang kita inginkan di masa depan. Keinginan ini dapat terwujud dengan memaksimalkan peluang dan memanfaatkan waktu secara maksimal dengan disertai doa. Terakhir, pengalaman saya membaca dan bertemu dengan pengarang Negeri 5 Menara adalah peristiwa yang sangat berkesan. Mudah-mudahan ini adalah berkah dan petunjuk dari Allah.
MENGELOLA SENSITIVITAS AMBALAT
Sengketa ambalat antara Indonesia dengan Malaysia lagi-lagi mengundang perhatian masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia kali ini cukup geram dan jengkel tak tertahankan terhadap manuver Malaysia. Kita begitu mudah tersulut emosinya bila berkaitan dengan wilayah kedaulatan terutama bila berurusan dengan Malaysia. Hal ini di satu sisi menguntungkan namun di sisi lain dapat merugikan bila tidak dikelola secara arif dan bijaksana.
Hal yang menguntungkan dari isu persengketaan dengan Malaysia perihal Blok Ambalat adalah kembali tumbuhnya rasa kepemilikan terhadap Indonesia. Rasa memiliki atas negara ini yang seakan pudar kembali menunjukan sinarnya. Namun, bersinarnya kembali rasa memiliki hanyalah sesuatu yang semu dan sesaat bila masyarakat tidak terinformasikan dengan baik. Masyarakat perlu mengetahui informasi yang jelas mengenai sengketa di Blok Ambalat.
Pertama, isu Blok Ambalat adalah sengketa penetapan perbatasan laut antara Indonesia dengan Malaysia. Penetapan ini adalah konsekuensi atas kepemilikan Pulau Sipadan-Ligitan oleh Malaysia yang berimplikasi pada berubahnya garis perbatasan laut. Perubahan ini mengharuskan kedua pihak untuk merundingkan garis perbatasan lautnya. Indonesia kali ini meperjuangkan hak untuk mengeksplorasi sumber daya alam di perairan Blok Ambalat.
Perlu untuk diketahui sebelum perjanjian batas laut dengan Indonesia disepakati Malaysia telah mengklaim wilayah perairan yang luas di perairan Sulawesi. Klaim Malaysia didasari pada peta kontroversial yang dibuat tahun 1979. Kontroversi dari peta Malaysia adalah diabaikannya hak Indonesia sebagai negara yang berdaulat dan ketetapan hukum laut internasional (UNCLOS). Tindakan unilateral dari Malaysia inilah yang menjadi akar permasalahan sengketa di Blok Ambalat.
Kedua, berdasarkan UNCLOS sengketa perbatasan laut diselesaikan dengan cara damai. Terdapat empat prosedur penyelesaian sengketa: (i) melalui Mahkamah Internacional; (2) melalui Pengadilan Hukum Laut Internasional (ITLOS); (3) arbitrasi; dan (4) arbitrasi khusus (KBRI Singapura, 2004). Indonesia sebagai negara yang meratifikasi UNCLOS sudah sepatutnya menjalankan prosedur yang ditetapkan. Perang dengan pengerahan kekuatan militer besar-besaran masih belum perlu dilakukan. Selain mubazir, perang juga tidak sesuai dengan tujuan bangsa ini untuk berperan serta dalam menjaga perdamaian dunia.
Ketiga, dengan belum diperlukannnya mendeklarasikan perang maka diplomasi patut untuk dikedepankan. Hal yang perlu dicatat adalah perundingan penetapan perbatasan laut membutuhkan waktu yang cukup lama. Adalah tidak mungkin kesepakatan akan tercipta dalam waktu singkat. Penetapan garis perbatasan di laut memerlukan argumentasi yang dilengkapi dengan bukti-bukti historis, legal dan teknis untuk memperkuat klaim hak atas suatu perairan. Hak ini berupa otoritas untuk mengeksplorasi sumber daya di dalamnya secara sah.
Keempat, bila ditinjau dari bukti yang ada saat ini Indonesia memiliki hak untuk berdaulat di Blok Ambalat. Hak ini bisa dilihat dari fakta sejarah bahwasanya Indonesia semenjak tahun 1970 telah memberikan konsesi penambangan minyak lepas pantai di Blok Ambalat. Selama itu pula Malaysia belum pernah mengajukan keberatan. Berdasarkan praktik negara (state practice) dalam menetapkan garis perbatasan, Indonesia memiliki landasan kuat untuk mengklaim hak untuk berdaulat di Blok Ambalat.
Empat informasi sederhana di atas dapat dijadikan katalis bagi masyarakat untuk mengelola sensitivitasnya dengan lebih arif dan bijaksana. Sensitivitas yang dapat mengerakan kembali keingintahuan dan rasa memiliki di masyarakat terhadap wilayah Indonesia. Sensitivitas yang dapat menyalurkan emosi masyarakat secara propossional, cerdas dan pada tempatnya. Pengelolaan emosi masyarakat yang baik dapat mendukung upaya diplomasi yang dilakukan pemerintah.
LETAK GEOGRAFIS DAN MASA DEPAN INDONESIA
“Man not nature initiates, but nature in large measure control” (Sir Halford Mackinder)

Peta Indonesia
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Negara ini juga memiliki posisi geografis yang unik sekaligus menjadikannya strategis. Hal ini dapat dilihat dari letak Indonesia yang berada di antara dua samudera dan dua benua sekaligus memiliki perairan yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan internasional. Posisi ini menempatkan Indonesia berbatasan laut dan darat secara langsung dengan sepuluh negara di kawasan. Keadaan ini menjadikan Indonesia rentan terhadap sengketa perbatasan dan ancaman keamanan yang menyebabkan instabilitas dalam negeri dan di kawasan.
Letak geografis merupakan salah satu determinan yang menentukan masa depan dari suatu negara dalam melakukan hubungan internasional. Meski untuk sementara waktu sedang diacuhkan, kondisi geografis suatu negara akan menentukan peristiwa-peristiwa yang memiliki pengaruh secara global. Robert Kaplan menuturkan bahwa geografi secara luas akan menjadi determinan yang mempengaruhi berbagai peristiwa lebih dari pada yang pernah terjadi sebelumnya (Foreign Policy, May/June, 09). Di masa yang akan datang, keberadaan Indonesia akan dipengaruhi oleh kondisi dan letak geografisnya. Maka tata kelola sumber daya alam, wilayah perbatasan dan pertahanan yang mumpuni sangat diperlukan.
Dikarenakan letaknya yang strategis semenjak dulu Indonesia telah menjadi arena perebutan pengaruh oleh pihak asing. Negara ini telah melalui beberapa periodisasi penguasaan dan perebutan pengaruh, mulai dari Portugal, Belanda, hingga Amerika Serikat dan Uni Soviet ketika Perang Dingin. Di masa mendatang tidak menutup kemungkinan Indonesia akan kembali menjadi wilayah perebutan pengaruh oleh negara-negara besar. Hal ini bisa dilihat dengan kemunculan China sebagai hegemon baru di kawasan yang telah menggeser perimbangan kekuasaan sekaligus mengikis pengaruh Amerika di kawasan.
Selain itu Indonesia dan kawasan sekitarnya dapat menjadi daerah rawan sengketa. Sengketa ini bisa terjadi mengingat Indonesia masih belum menyelesaikan masalah-masalah semisal batas laut dengan negara-negara seperti, Australia, Filipina, Palau, Papua Nugini dan Timor Leste. Proses perundingan perbatasan membutuhkan waktu yang lama, sementara itu hal ini akan menjadikan Indonesia rentan terhadap pengaruh asing akibat kontrol di perbatasan yang lemah. Mulai dari kejahatan transnasional hingga terorisme sangat mungkin dilakukan di Indonesia yang sangat luas dengan kondisi geografisnya dan pengawasan yang terbatas.
Secara ringkas, hubungan antara posisi geografis yang strategis dan keberadaan negara Indonesia di masa mendatang akan ditentukan oleh dua hal. Pertama, seberapa baik negara ini menyelesaikan proses perundingan perbatasan. Hasil dari perundingan perbatasan dengan negara lain akan menentukan strategi pengelolaan perbatasan dan pertahanan. Kedua, strategi yang akan dilakukan Indonesia dalam mengantisipasi pengaruh China dan negara besar lainnya di kawasan Asia Timur.
Penting untuk diketahui oleh masyarakat Indonesia bahwa letak dan kondisi geografis negara ini sangat mempengaruhi keberadaanya di masa depan. Masyarakat juga perlu untuk menyadari bahwa menyandarkan pemerintah seorang diri untuk mengahadapi tantangan atas fakta geografis dari negara ini adalah hal yang keliru. Pemerintah memiliki keterbatasan untuk mengatasi dan menginisiasi tantangan di masa depan seorang diri. Kita juga perlu untuk mendukung pemerintah dikarenakan masa depan masyarakat Indonesia dipertaruhkan di sini. Sudah saatnya masyarakat melihat kembali atlas wilayah Indonesia untuk setidaknya mengetahui dimana letak Palau berada dan pulau-pulau terluar negara ini.
Masa depan Indonesia tidak dapat dilepaskan dari letak dan kondisi geografisnya. Patut diingat, masyarakat banyak yang kecewa ketika Pulau Sipadan-Ligitan lepas dari wilayah Indonesia meski awalnya mereka tidak tahu atau bahkan peduli dengan keberadaan pulau tersebut. Ketidak-pedulian dan ketidak-tahuan kita terhadap wilayah dan geografi Indonesia akan berujung bencana bagi diri sendiri. Geografi akan menjadi determinan yang menentukan masa depan Indonesia adalah hal yang tidak dapat dipungkiri lagi. Namun perlu untuk digaris bawahi bahwa keberadaan Indonesia di masa mendatang terletak pada seberapa jauh masyarakat mengenali dan memahami wilayah yang kita tinggali saat ini.
Terakhir, ada baiknya wawasan nusantara tidak lagi dilihat sebagai hafalan ketika ujian kewarganegaraan. Tetapi sebagai sebuah cerminan terhadap perlunya kita memahami lingkungan dan letak serta kondisi geografis Indonesia. Dikarenakan wilayah Indonesia dengan fakta geografisnya adalah wadah bagi kita untuk menuangkan berbagai ide demi menjawab tantangan saat ini dan di masa yang akan datang.
China dan Inovasi Kebijakan Luar Negeri RI
China telah hadir kembali sebagai kekuatan besar (great power) di dunia. Sebagai salah satu negara great power sepak terjang China diawasi secara seksama oleh sesama great power seperti Amerika Serikat, Russia dan Uni Eropa serta negara kelas dua yang strategis seperti Indonesia. Indonesia juga menyadari kehadiran China sebagai great power yang memiliki pengaruh yang sangat kuat di kawasan Asia Timur. Indonesia mau tidak mau akan berusaha menerapkan berbagai strategi untuk merespon hegemoni China di kawasan Asia Timur. Lalu bagaimana kebijakan luar negeri Indonesia akan menyesuaikan diri dengan tujuan dasar China sebagai great power.

China Bintang Besar Asia sumber:www.vinniesworld.com
China adalah salah satu great power yang menguasai kawasan Asia Timur. Sebagai negara great power, ia memiliki empat tujuan dasar yang ingin dicapai (Mearsheimer,2001). Pertama, menjadi dan mempertahankan keberadaanya sebagai hegemon di kawasan. China secara perlahan telah memperluas jangkauan cengkramannya di kawasan baik secara militer maupun politik. Kedua, China sebagai great power akan bertujuan untuk memaksimalkan kekayaannya.
Ketiga, mendominasi perimbangan kekuatan sekaligus memaksimalkan kekuatan militernya di darat, laut dan udara. Tujuan ini dapat dilihat dari jumlah anggaran pertahanannya yang besar dan mulai menggeser kekuatan lain di kawasan. Keempat, superioritas nuklir yang ingin dimiliki untuk memastikan keunggulannya dari great power lainnya. Empat tujuan dasar minus tujuan memiliki superirioritas nuklir akan mendasari kebijakan luar negeri China dalam satu hingga dua dekade ke depan.
Lebih lanjut, Indonesia memiliki landasan visi dalam melakukan hubungan luar negeri. Visi ini tercantum dalam UUD 45 sebagai landasan konstitusional dan UU No. 37 tentang Hubungan Luar Negeri sebagai landasan operasional. Prinsip bebas aktif menjadi landasan prinsipil dari kebijakan luar negeri.

Menunggu manuver dari sang Garuda?
Untuk menyesuaikan dan bertahan dalam pergeseran konstelasi politik internasional, Indonesia membutuhkan inovasi kebijakan luar negeri bebas aktif untuk mengantisipasi kehadiran China sebagai hegemon. Inovasi yang berupa cara-cara kreatif, luwes, dan berpandangan ke depan dalam mengantisipasi hegemoni China di Kawasan. Inovasi yang berbeda dari biasanya yang menghadirkan terobosan-terobosan mumpuni baik dalam mengayuh di antara dua karang maupun mengarungi samudra tantangan.
Umumnya strategi yang digunakan untuk menyesuaikan kehadiran great power seperti China adalah counter balancing, bandwagoning dan hedging. Namun ketiganya bukan merupakan pilihan strategi yang tepat bagi Indonesia. Selain tidak sesuai dengan prinsip bebas aktif, tiga strategi ala realisme Hubungan Internasional ini hanya akan menjerumuskan Indonesia ke dalam pusaran negara-negara great power yang terkutuk untuk saling berkonflik. Strategi ini juga akan menjadikan China sebagai great power yang tidak bertanggung jawab dalam mencapai tujuan dan mempertahankan statusnya.
Alternatif strategi yang baik untuk dikedepankan adalah dengan menciptakan proses distribusi ide yang seimbang. Suatu proses yang melibatkan Indonesia, China dan negara-negara lain dalam suatu wadah untuk membangun saling kesepahaman dalam mengatasi tantangan global saat ini. Proses distribusi ide yang seimbang dapat meminimalisir praduga-praduga yang keliru mengenai kebangkitan China. Proses ini dapat dilakukan secara aktif melalui ASEAN dan berbagai konferensi tingkat tinggi lainnya dimana Indonesia memainkan peran sentral di dalamnya. Usaha membangun saling kesepahaman antara Indonesia dan China serta negara-negara lain di kawasan dapat membangun hubungan internasional yang solid dan harmonis antar negara.
Kehadiran China sebagai great power di kawasan Asia Timur perlu dihadapi dengan inovasi kebijakan luar negeri Indonesia. Inovasi yang dapat mengarahkan dan memanfaatkan kekuatan China ke dalam wadah yang bermanfaat demi kepentingan nasional Indonesia. Inovasi yang juga dapat memberikan stabilitas dan mendorong kesejahteraan kawasan. Inovasi ini juga diharapkan dapat mendorong China sebagai great power yang menyadari peran dan tanggung jawabnya untuk mewujudkan perkembangan yang diliputi damai. Terakhir, kita akan menantikan inovasi kebijakan luar negeri Indonesia dari presiden baru yang terpilih dalam mengantisipasi hegemoni China.
MANGA DAN DIPLOMASI JEPANG DI INDONESIA
Indonesia telah menikmati hubungan yang sangat mesra dengan Jepang selama lima puluh tahun. Seiring dengan hal tersebut, masyarakat Indonesia semakin mengenal dan tertarik pada Jepang baik di bidang ilmu pengetahuan, budaya maupun gaya hidup. Jepang seakan terus mengundang decak kagum masyarakat Indonesia. Salah satu aspek yang cukup berperan dalam kesuksesan diplomasi Jepang di Indonesia adalah kehadiran komik Jepang (manga) ke tengah-tengah masyarakat.

Akatsuki dari Manga Naruto
Manga sangat mendominasi pasar komik Indonesia, sekitar 80 persen dari total komik yang terjual adalah manga (Kompas. 26/11/2007). Manga dengan mudah dapat ditemui di setiap toko buku dan gerai komik di Indonesia. Bahkan manga dapat dengan mudah ditemui di berbagai taman bacaan dan tempat penyewaan komik. Pada Indonesia-Jepang Expo 2008 terdapat tempat dan sesi tersendiri mengenai manga karena begitu tertariknya masyarakat Indonesia terhadapnya. Manga telah memperoleh kesuksesan dan penggemar dalam jumlah besar di Indonesia.

Siapa tak kenal Doraemon Diunduh dari: http://andihendra.files.wordpress.com
Kesuksesan manga dalam memenangi hati dan pikiran masyarakat menjadikanya mitra dalam diplomasi Jepang. Hal ini diungkapkan Taro Aso ketika menjabat menteri luar negeri untuk menggunakan media dan budaya populer yang sangat efektif dalam mepenetrasi masyarakat dalam diplomasi. Jepang mulai memanfaatkan manga sebagai alat berdiplomasi ke berbagai negara. Manga hadir dan digunakan untuk mendukung multitrack diplomacy di level masyarkat. Manga merupakan media pendukung soft power Jepang dalam hubungan antar negara, terutama di Indonesia.
Saat ini manga telah menjadi suatu yang identik dengan Jepang. Masyarakat seketika akan terbayang pada manga ketika berpikir tentang Jepang dan sebaliknya. Hal ini dapat dilihat pada sosok ikonik dari Doraemon. Masyarakat Indonesia sangat mengenal Doraemon dan mengetahui dari mana ia berasal. Oleh karena itu tokoh yang berasal dari manga yang sangat sukses di Indonesia dijadikan ikon duta diplomasi budaya Jepang. Doraemon menunjukan bahwasanya manga dapat disebut dan menjadi diplomat Jepang masa kini.
Hal ini tidaklah terlalu berlebihan mengingat diplomasi saat ini tidak hanya melibatkan pemerintah semata. Sebagaimana yang dicetuskan oleh Hasan Wirayuda untuk melibatkan berbagai komponen bangsa dalam diplomasi total. Di saat yang bersamaan media telah disadari sebagai sebuah elemen yang sangat berpengaruh dalam memperkuat karakter dan kesuksesan dari diplomasi. Bila media merupakan elemen yang penting maka bukanlah sesuatu yang mengada-ada untuk menggunakan media populer seperti manga dalam diplomasi. Manga semakin memperkuat citra dan upaya mengenalkan Jepang di Indonesia.

Detective Conan menggambarkan kota-kota besar di Jepanghttp://www.anime-pictures.info/detective-conan/detective-conan1.jpg
Lalu, manga merupakan media yang efektif dengan efek yang dahsyat untuk melihat dan mengenal Jepang. Manga menawarkan cerita mengenai Jepang melalui visualisasi apik dan penjelasan sederhana yang dikemas sebagai sebuah hiburan. Manga mengambarkan cerita mengenai Jepang mulai dari sejarah, budaya, gaya hidup, karakter masyarakat, kondisi sosial, semangat hingga humor. Manga sebagai sebuah media hiburan terlihat sepele namun sebagai media diplomasi ia memiliki efek yang membius. Efek yang mengendap di hati dan pikiran masyarakat Indonesia secara berkelanjutan. Suatu hal yang diimpikan oleh para diplomat dalam berdiplomasi.
Kehadiran manga di Indonesia semakin memperkenalkan Jepang kepada masyarakat. Manga seperti pendukung dari suatu kesebelasan dimana kehadirannya mendukung keberhasilan dan kepentingan nasional Jepang. Manga yang merupakan sub-kultur semakin dikenal luas dan diminati oleh masyarakat Indonesia khususnya remaja. Jepang melalui manga telah berdiri kurang lebih sejajar dengan Amerika Serikat dan film Hollywoodnya dalam segi popularitas dan pengaruh budaya di Indonesia.
Diplomasi Jepang di Indonesia selama lima puluh tahun telah dilakukan melalui berbagai strategi. Strategi dan media yang digunakan Jepang untuk mendukung diplomasinya sangatlah beragam. Salah satu bentuk diplomasi Jepang yang sangat menarik dan terhebat selain bantuan dana adalah manga. Manga meningkatkan minat remaja Indonesia untuk belajar bahasa dan mengunjungi Jepang. Remaja Indonesia semakin mengagumi dan mencintai Jepang sekalipun mereka hanya melihat serta mengenalnya melalui manga. Hal ini merupakan keuntungan tersendiri bagi Jepang dalam mempertahankan hubungan baik dengan Indonesia. Dikarenakan memperoleh hati dan kepercayaan dari masyarakat di suatu negara merupakan bagian tersulit dalam diplomasi. Dalam hal ini, Jepang melalui manga cukup berhasil melakukannya di Indonesia.
Diplomasi manga merupakan keberhasilan dalam memadukan unsur kreativitas dan pemanfaatan media secara maksimal. Indonesia merupakan contoh sukses dimana diplomasi manga berhasil diterapkan dengan baik. Manga merupakan media populer yang semakin memperkokoh hubungan Indonesia dengan Jepang hingga mencapai tahun ke lima puluh. Selain itu, kehadiran manga juga mendukung dan memperkuat pengaruh budaya Jepang di Indonesia. Suatu pencapaian yang digunakan Jepang untuk merintis dan mempertahankan keberhasilan diplomasinya.
Terakhir, Produk budaya seperti manga merupakan hal yang cukup ampuh dalam mendukung diplomasi. Kolaborasi diplomasi dengan manga merupakan suatu hal yang lahir secara kebetulan namun momentum ketenaran manga dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh Jepang. Diplomasi manga yang telah disebar dan dinikmati di berbagai negara menunjukan era terkini dari politik dunia.
Climate Justice & Praktik Hubungan Internasional
Ini sudah terjadi cukup lama, tapi saya merasa pengalaman ini layak untuk dibagi dan ditampilkan. Hal ini dikarenakan kian sengitnya perdebatan antara teori dengan praktik di dalam hubungan internasional.
Desember 2007, saya dan beberapa teman mendapat tawaran menjadi sukarelawan untuk acara Solidarity for a cool planet. Acaranya bersamaan dengan UNFCC, cuma bedanya yang satu di hotel yang satu lagi di taman, tapi sama-sama di Nusa Dua, Bali.
Isu yang dibicarakan adalah lingkungan, yang diperdebatkan adalah mitigasi versus justice. Lumayan rame, karena pada acara itulah saya bener-bener melihat secara langsung praktik hubungan internasional yang melibatkan non-state actor, waktu itu banyak sekali INGO yang datang ke Bali. Ternyata teori-teori HI itu bisa juga dipraktikan juga. Ha…ha…
Tapi saya belum sempat membahasnya secara dalam karena keterbatasan waktu. Namun saya akan meninggalkan kutipan dari Immanuel Kant:
Pengalaman tanpa teori sama dengan buta, tapi teori tanpa pengalaman hanyalah permainan intelektual belaka.
Semoga bisa dijadikan bahan renungan.
SANG PERINTIS PERADABAN

Tulang Punggung kehidupan Bangsa
Petani adalah salah satu entitas yang sangat penting dalam pembentukan suatu peradaban. Keberadaan mereka sangat erat dengan berbagai peradaban yang pernah muncul di bumi. Peradaban Mesopotamia, Sumeria, Mojehandaro-Harapa, Yunani, China, dan Majapahit menyandarkan kemajuan mereka di bidang pertanian. Petani telah menjadi aktor aktual dalam berbagai peristiwa yang mengisi relung sejarah peradaban manusia. Peradaban telah datang dan pergi namun petani tetap berdiri menemani berbagai perubahan di bumi ini. Apakah kita menyadari hal ini?
Tulisan ini merupakan suatu usaha untuk mengambarkan secara singkat mengenai jasa petani dalam kehidupan. Penulis berpendapat jasa terbesar dari petani adalah fungsinya dalam merintis pembentukan suatu peradaban. Petani juga berperan sebagai penyambung perut dan pikiran masyarakat. Masyarakat sangat bergantung pada petani untuk terus mengembangkan peradabannya. Mereka menunggu pasokan persediaan pangan dari petani secara terus menerus untuk melanjutkan peradaban.
Peradaban-peradaban besar berawal dari ditemukannya kemampuan dan pengetahuan manusia untuk bertani. Manusia merubah cara serta gaya untuk bertahan hidup dari berpindah-pindah menjadi menetap dan menanam. Lalu secara perlahan manusia mulai menetapkan landasan untuk menata kumpulan manusia di dalam suatu aturan dan stratifikasi sosial kehidupan bermasyarakat. Manusia-manusia yang pertama kali melakukan cocok tanam merupakan pemicu keberadaan peradaban sekaligus peletak pola hubungan sosial saat ini. Mereka merupakan cikal-bakal dari suatu gagasan yang disebut dengan petani.
Petani adalah perintis peradaban yang merelakan diri untuk mendedikasikan hidupnya demi keberlangsungan hidup masyarakat dari generasi ke generasi. Petani sebagai perintis suatu peradaban memiliki kesempatan yang besar untuk memperoleh kekuasaan tetapi mereka lebih memilih cara hidup yang berbeda. Mereka memilih untuk melanjutkan proses penghidupan dengan mengolah lahan dan menyediakan bahan pangan bagi masyarakat. Petani terus mempertaruhkan hidup mereka untuk berkontribusi demi mempertahankan hidup masyarakat.
Perdagangan internasional merupakan salah satu kontribusi terbesar dari petani bagi peradaban. Petani tidak hanya menumbuhkan pangan bagi masyarakat dimana mereka tinggal tetapi juga berusaha menyediakannya bagi masyarakat di tempat lain. Usaha tersebut dilakukan dengan mengadakan interaksi dan pertukaran komoditas dalam jumlah yang besar dengan pihak asing. Perdagangan bebas (free trade) adalah perkembangan paling mutakhir di bidang perdagangan. Perdagangan bebas adalah mekanisme perdagangan yang meniadakan hambatan dan tarif dalam perdagangan internasional sebagai upaya untuk memberikan kesempatan yang sama bagi masyarakat di seluruh dunia. Hal ini dimaksudkan untuk mewujudkan perdamaian antar bangsa dengan mengedepankan perdagangan dan saling ketergantungan yang meminimalisir terjadinya perang. Hal ini tidak akan pernah terwujud bila petani berhenti berkreasi dan berkorban untuk menghasilkan komoditas pangan berkualitas.
Lebih lanjut, petani adalah penyokong kekuatan dan kemajuan suatu negara. Negara merupakan simbolisasi proses kreatif dari sebuah peradaban. Negara membutuhkan petani untuk mempertahankan keberadaanya dan memastikan penerus-penerusnya di masa depan. Petani berperan besar dalam menyediakan pangan bagi suatu negara terutama demi memastikan kemampuanya untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri. Bila suatu negara mampu menyediakan persediaan pangan yang cukup bagi rakyatnya, maka hal ini akan menunjukan kapabilitas pemerintah untuk menghidupi masyarakat secara mandiri dan berdaulat. Petani adalah aktor di belakang layar yang berjasa besar bagi keberadaan suatu negara.
Petani juga adalah salah satu pihak yang berjasa besar dalam pelestarian lingkungan jauh sebelum isu ini menjadi tren seperti saat ini. Petani melalu teknik bertani yang bergantung pada musim dan alam sekitar berusaha menyelaraskan kegiatan pertaniannya dengan lingkungan. Mereka menyadari pentingnya pelestarian lingkungan demi kelangsungan proses bercocok tanam. Penulis melihat hal ini secara langsung di Tabanan, Bali yang mayoritas masyarakatnya berprofesi sebagai petani. Mereka memiliki kepedulian yang besar dalam pelestarian lingkungan secara turun temurun. Hal ini terlihat dengan masih banyak terdapat pohon-pohon yang dilestarikan di lereng bukit dan berfungsi sebagai penyerap air sekaligus penghasil oksigen. Kontribusi kecil dari petani di Tabanan dalam melestarikan lingkungan merupakan usaha yang tidak pernah mengharapkan balas jasa dalam pelestarian alam.
Peradaban sebagai suatu proses kreatif yang memadukan ide dan materi dalam kehidupan manusia memerlukan terobosan serta pengorbanan. Petani termasuk ke dalam kelompok yang senantiasa berkorban secara sukarela dalam mengawal kemajuan masyarakat. Mereka terus menunjukan semangat pantang menyerah untuk mengabdi pada masyarakat di tengah kehidupan mereka yang kian sulit. Kemajuan dan keberadaan peradaban bergantung pada keuletan serta kemampuan petani yang senantiasa berjuang untuk menghasilkan produk pangan terbaik bagi masyarakat.
Saat ini, masyarakat perlahan melupakan asal muasal makanan yang dinikmati dikarenakan ketidaktahuan dan ketidakpedulian mereka untuk mengapresiasi usaha dari petani. Makanan yang diperoleh secara seketika telah menghilangkan jejak kontribusi dari petani. Mereka menganggap makanan-makanan yang disajikan di atas meja seakan muncul dan ada begitu saja. Oleh sebab itu masyarakat terutama generasi muda perlu untuk merenungkan kembali dan mengapresiasi kontribusi dari petani yang kurang disadari.
Petani memiliki keberadaan yang sangat penting di dalam kehidupan masyarakat. Manusia akan terus berpindah dan peradaban manusia akan berjalan sangat lambat bila tidak ada yang memulai melakukan cocok tanam. Manusia tidak akan dapat bertahan lama tanpa adanya pasokan makanan, mereka juga tidak akan dapat meneruskan cita-cita dikarenakan terlalu lemah untuk melanjutkan hidup. Konsensus perdangan bebas gagal tercapai di Jenewa dikarenakan tidak adanya kesepakatan mengenai regulasi komoditas pertanian antara negara maju dengan negara berkembang. Petani adalah salah satu jawaban dari berbagai persoalan yang terjadi saat ini. Seringkali kita berpikir terlalu jauh serta meniadakan peran dan kontribusi mereka yang berjuang demi kehidupan orang banyak.
Masyarakat dapat mencapai kemajuan seperti saat ini berkat pengorbanan petani dalam menyediakan pasokan pangan yang berkualitas. Petani-petani tidak pernah membayangkan apa yang mereka lakukan sebagai suatu jasa. Mereka lebih senang menganggapnya sebagai suatu pengabdian yang bermanfaat bagi masyarakat. Pengabdian yang bermakna dan memberikan inspirasi bagi generasi saat ini. Oleh karena itu, generasi muda harus meneladani pengorbanan yang telah dilakukan petani dengan terus berjuang bagi masyarakat untuk mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial. Pengorbanan mereka adalah contoh nyata bagi masyarakat dalam meneruskan dan menghargai kehidupan.
Petani adalah sumber inspirasi yang telah meringankan kewajiban masyarakat untuk memenuhi tuntutan perut yang tiada henti. Mereka adalah sang perintis dalam peradaban yang menjadi penyambung perut dan pikiran masyarakat. Manusia yang terpenuhi kebutuhan pangannya dapat berpikir lebih baik dikarenakan mendapat pasokan energi yang cukup untuk berpikir. Pemikiran-pemikiran yang kreatif diperlukan untuk mempertahankan keberadaan manusia dan menjawab tantangan jaman. Petani adalah gambaran kebanggaan sejati, suatu contoh terbaik mengenai pengorbanan, perjuangan serta bagaimana menjadi bagian dari perkembangan dan kemajuan masyarakat. Petani memang bikin bangga!
* Dikirim untuk Lomba Esai DEPTAN RI Desember 2008.
